Skip to main content

Featured

Masih Ragu Untuk Menerima Vaksinasi Covid-19? Ini Pengalamanku

Vaksinasi Covid-19, bagiku ini adalah antara maju dan mundur, tidak sepasti orang lain yang tidak memiliki "teman" dalam tubuhnya. Aku berteman dengan diabetes type 1 yang adalah autoimmune dan sudah nyeret si hipertensi. Waktu awal-awal vaksin Covid beredar katanya penyintas autoimmune tidak boleh vaksin, lalu belakangan katanya: gak apa-apa, asalkan terkontrol. Nah, definisi "terkontrol" ini sejauh apa? Aku gak tahu.  Kalau dilihat dari nilai HbA1C jelas diabetesku gak terkontrol, begitu juga kalau dilihat dari tensi, tak terkontrol juga, tapi memang sih angka burukku gak pernah berlebihan buruknya. Seperti misalnya diabetes, angkaku gak pernah lebih dari 400, lalu tensi juga gak pernah lebih dari 180/100. Tapi apa itu "terkontrol"? Suatu saat pengelola Apartemen Greenbay tempat aku tinggal mengumumkan dibukanya pendaftaran vaksinasi untuk usia dewasa 18-59 tahun, nekat aja aku daftar padahal belum tahu bisa atau nggak. Waktu itu yang semangat mendaftark

Kesombongan, Kebanggaan, dan Memberi Informasi

Status dari seorang teman di facebook sangat menggelitik saya untuk menulis tentang beda ketiga hal tersebut di judul artikel ini :

  • Kesombongan (Arrogant)
  • Kebanggaan (Proud)
  • Memberi informasi (Informing)

Dalam bahasa Inggris :

ar·ro·gant
adj.

1. Having or displaying a sense of overbearing self-worth or self-importance.
2. Marked by or arising from a feeling or assumption of one's superiority toward others: an arrogant contempt for the weak.



Proud
Proud(adjective) means feeling greatly honoured or pleased(proud to know him)



Informing
A speech act that conveys information


________________________________________


Dalam bahasa Indonesia :

Sombong
menghargai diri secara berlebihan;

Bangga
besar hati; merasa gagah (krn mempunyai keunggulan)


Memberi Informasi
menerang-kan; memberitahukan



Ketiganya adalah hal yang berbeda. Penilaian seseorang tentang orang lain kadang dipengaruhi perasaan pribadi, dan ini bisa dengan mudah membuat interpretasi tiap kata menjadi salah.

Seperti misalnya orang yang memberi informasi tentang sesuatu hal ternyata dianggap sombong. Namun, cara bicara, intonasi, atau cara penulisan suatu informasi juga bisa merujuk pada kondisi orang yang bicara atau menuliskannya.

Maka, untuk menilai bagaimana kondisi internal dan perasaan si pembuat pernyataan kita harus benar-benar teliti, tidak langsung menghakimi.

Begitu juga dalam menyampaikan sesuatu, kita harus berhati-hati supaya penerima informasi tidak salah sangka terhadap kita.

Comments

Popular Posts