Skip to main content

Featured

Masih Ragu Untuk Menerima Vaksinasi Covid-19? Ini Pengalamanku

Vaksinasi Covid-19, bagiku ini adalah antara maju dan mundur, tidak sepasti orang lain yang tidak memiliki "teman" dalam tubuhnya. Aku berteman dengan diabetes type 1 yang adalah autoimmune dan sudah nyeret si hipertensi. Waktu awal-awal vaksin Covid beredar katanya penyintas autoimmune tidak boleh vaksin, lalu belakangan katanya: gak apa-apa, asalkan terkontrol. Nah, definisi "terkontrol" ini sejauh apa? Aku gak tahu.  Kalau dilihat dari nilai HbA1C jelas diabetesku gak terkontrol, begitu juga kalau dilihat dari tensi, tak terkontrol juga, tapi memang sih angka burukku gak pernah berlebihan buruknya. Seperti misalnya diabetes, angkaku gak pernah lebih dari 400, lalu tensi juga gak pernah lebih dari 180/100. Tapi apa itu "terkontrol"? Suatu saat pengelola Apartemen Greenbay tempat aku tinggal mengumumkan dibukanya pendaftaran vaksinasi untuk usia dewasa 18-59 tahun, nekat aja aku daftar padahal belum tahu bisa atau nggak. Waktu itu yang semangat mendaftark

Indigenous Soto Ayam

Soto ayam. Berapa banyak dari kita yang tahu tentang soto ayam? Sebagian besar dari kita pasti tahu ya... atau bahkan semua pembaca artikel ini sudah tahu tentang soto ayam? Tak satu pun yang tahu asal mula soto ayam yang sebenarnya, yang jelas, makanan ini terkenal di Indonesia (khususnya terkenal berasal dari pulau Jawa), Singapore, dan Malaysia.

Namun begitu ada kekhasan penyajian dari tiap warung, kaki lima, depot, food court, atau resto yang menjual soto ayam. Mulai dari yang berkuah bening, berkoya banyak, berdaging banyak, berlontong, berketupat, berkuah super panas, memakai kripik kentang, pakai kecambah (tauge), pakai kol, dst.

Kalau selera saya pribadi, terus terang saya lebih suka soto ayam kaki lima. Kenapa? Kuahnya kental! Tidak bening! Kelihatan bumbu dan kaldunya. Koyanya? bebas ambil! Sambelnya juga. Kalau yang di resto kebanyakan kuahnya bening, kurang merakyat. Ya : merakyat! Ini adalah makanan rakyat, ketika mulai diperkenalkan pada masyarakat soto ayam dijual di warung dan gerobak, bukan di resto, sehingga, bagi saya, menikmatinya pun lebih enak kalau di gerobak.

Inilah yang saya sebut sebagai indigenous culinary, ketika menikmati kuliner dilakukan berdasarkan orisinalitas daerah asal kuliner tersebut. Beberapa penikmat kuliner cenderung suka menikmati dan mencicipi kuliner di tempat asal kuliner tersebut dan dengan cara yang sesuai dengan cara aslinya kuliner tersebut dihidangkan.

Sensasi emosionalitas dan originalitas makanan itulah yang merasuk ke dalam setiap suapan. Jadi, semakin expert seorang penikmat kuliner, dia tidak akan ragu masuk-keluar warung demi mencicipi keaslian rasa dan emosionalitas yang ada dalam makanan. Semakin expert pula seorang pecinta kuliner, dia tidak menganggap segala yang dihidangkan di resto mahal dengan segala pernak-pernik importnya itu sebagai kuliner yang top. Harga juga tidak menjadi ukuran kuliner "maknyus" tapi, sekali lagi, originalitas asal kuliner dan nilai emosionalitas yang diperoleh dari kenangan, atau nostalgia masa lalu, itulah yang bisa dinikmati dari indigenous culinary, termasuk soto ayam ini.

Soto ayam yang saya nikmati di sebuah gerobak dengan tampilan merakyat, harga Rp. 7.000,- per porsi. Lihat saja tampilannya, bagi saya ini lebih menarik daripada sajian soto ayam bening dengan mangkok berkilau yang disajikan di resto terkenal.

Menikmati kuliner dari ke-indigenous-annya adalah sangat menyengkan, karena melibatkan emosionalitas dan kenangan akan masa lalu kita. Kalau perlu, untuk menikmati coto makassar, misalnya, marilah ke Makassar, carilah gerobak atau warung penjualnya yang benar-benar menyajikan resep asli dengan cara yang merakyat. Karena ini adalah makanan rakyat. Begitu juga untuk menikmati rawon, nasi krawu, silakan datangi asal daerahnya. Di sana akan didapat kepuasan kuliner yang sebenarnya.

Comments

Popular Posts