Skip to main content

Featured

Procrastination

PERHATIAN:  Tulisan ini hanya untuk dibaca oleh orang-orang yang sudah dewasa. TIDAK untuk dibaca anak-anak atau orang dewasa yang belum punya kedewasaan pribadi. Penulis tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.  ========================== Hadirin pada pertemuan German Association of Arts and Sciences tahun 1875 dikejutkan oleh atraksi dua orang pria yang meminum arsenic dengan dosis yang dianggap cukup mematikan. Tahu kan apa itu arsenic? Masih ingat kan berita tentang kopi arsenic Mirna dan jus jeruk Alm. Munir yang mengandung arsenic? Dari kedua berita ini kita tahu bahwa arsenic sangat mematikan.  Apa yang terjadi pada kedua pria yang meminum arsenic dalam meeting itu? Apa mereka meninggal dengan tragis? Hari berikutnya dalam meeting yang sama, mereka hadir dengan kondisi sehat dan senyum ceria! KOK BISA? “Pasti mereka punya penawarnya!” begitu kan pikiran Anda? Tidak, mereka tidak punya penawarnya.  Lama sebelum meeting itu diadakan, kedua pria itu telah

Learn To Be Me - 3 : "Parla Come Magni"

"Parla come magni" -> say it like you eat it, when you're making a big deal out of explaining something, when you are searching for the right words, keep your language as simple and direct as Roman food 
(Liz Gilbert).

Sumber gambar

----------------------------------


Dalam proses memahami diri sendiri, kitalah yang paling bisa. Bukan orang lain, seahli apapun dia. Banyak orang menyatakan pada kita, kamu itu begini - kamu itu begitu. Mungkin ada benarnya, tapi bagaimana pun penilaian diri kitalah yang benar. Kita sendiri yang tahu seberapa besar kemampuan kita dalam menghadapi masalah. 


Paling tidak itulah yang saya yakini. Mungkin pada orang dengan tingkat keyakinan diri rendah akan berkata sebaliknya, bahwa opini orang lain terhadap dirinya itulah yang benar.


Dalam usaha rekonsiliasi dengan diri pribadi ini, banyak pengaruh dari luar yang berusaha membuat diri saya patuh terhadap opininya, opininya tentang diri saya. No, bukan itu yang saya inginkan. Saya ingin benar-benar menyatu dengan diri saya sendiri. Bukan dengan opini orang lain. Bagi saya, opini tersebut akan menyulitkan usaha saya. Menutup telinga dari opini orang lain adalah jalan yang termudah. 


Yang sulit adalah jika saya diminta menjelaskan : kenapa saya perlu melakukan rekonsiliasi? Kenapa tidak menjalani hidup dengan mengalir saja? Mulut saya langsung terbungkam. Bungkam tidak berarti saya mengurungkan niat saya untuk melakukan rekonsiliasi. Tapi saya tak menemukan satu kata pun untuk menjelaskan perasaan saya dengan tepat, paling tidak "tepat" menurut ukuran saya.


Saya teringat quote diatas yang berbunyi "Parla come magni". Jelaskan saja dengan singkat dan langsung begitu saja. Menurut saya ini adalah cara terbaik. Tapi TIDAK, saya belum bisa.

Comments

Popular Posts