Skip to main content

Featured

Procrastination

PERHATIAN:  Tulisan ini hanya untuk dibaca oleh orang-orang yang sudah dewasa. TIDAK untuk dibaca anak-anak atau orang dewasa yang belum punya kedewasaan pribadi. Penulis tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.  ========================== Hadirin pada pertemuan German Association of Arts and Sciences tahun 1875 dikejutkan oleh atraksi dua orang pria yang meminum arsenic dengan dosis yang dianggap cukup mematikan. Tahu kan apa itu arsenic? Masih ingat kan berita tentang kopi arsenic Mirna dan jus jeruk Alm. Munir yang mengandung arsenic? Dari kedua berita ini kita tahu bahwa arsenic sangat mematikan.  Apa yang terjadi pada kedua pria yang meminum arsenic dalam meeting itu? Apa mereka meninggal dengan tragis? Hari berikutnya dalam meeting yang sama, mereka hadir dengan kondisi sehat dan senyum ceria! KOK BISA? “Pasti mereka punya penawarnya!” begitu kan pikiran Anda? Tidak, mereka tidak punya penawarnya.  Lama sebelum meeting itu diadakan, kedua pria itu telah

Learn To Be Me - 4 : Sepatuku VS Sepatumu

sumber gambar
Sepatu bermerk yang sama dengan nomer yang sama tidak menjamin bisa dipakai dengan kenyamanan yang sama oleh 2 orang yang berbeda, termasuk jika 2 orang itu memakai sepatu dengan nomer yang sama. Konon, bentuk sepatu akan mengikuti bentuk kaki dan cara jalan pemiliknya. Padahal, menurut sebuah penelitian, cara berjalan tiap orang berbeda, sangat berbeda layaknya sidik jari. Sehingga berdasarkan penemuan ini, dikembangkan sebuah kamera yang bisa mendeteksi pencuri atau perampok melalui cara jalan mereka (http://www.helium.com/items/1335724-gait-recognition-and-how-it-affects-you).

Perbedaan cara berjalan yang sangat individual sifatnya ini mampu merubah bentuk sepatu dengan sangat individual pula. Akibatnya, Jika si A berkata bahwa sepatunya sangat nyaman, belum tentu sepatu itu akan nyaman pula bagi si B dan si C, dst.

Lalu mengapa kita memaksakan orang lain memakai sepatu yang kita sebut nyaman itu? Mengapa kita memakaikan ukuran kita pada orang lain?

Kemarahan saya yang pertama adalah akibat ketidakkonsistenan seorang teman. Bukannya sangat kaku, tapi saya memang tidak suka orang yang, dalam bahasa jawa, mencla-mencle. Dengan mencla-mencle apakah dia bisa dipercaya? Tentu TIDAK! Itu sebabnya pula saya selalu tekankan pada anak saya supaya tidak mencla-mencle. Menjadi orang yang bisa dipercaya adalah suatu aset yang bisa membawa pada keberhasilan dan kesuksesan mencapai cita-cita dan kebahagiaan hidup.


OK-lah, itu ukuran "sepatu" saya, yang saya kenakan pada orang lain, dan akibatnya saya sendiri yang merasa marah, si orangnya sendiri tidak merasa salah. Saya jadi sadar bahwa saya salah, bukan tanggung jawab saya untuk mendidiknya yang telah dewasa dan notabene bukan anak saya.

Tapi kemudian, karena kemarahan saya ini, ada orang lain yang memaksa saya memakai sepatunya! Jelas tidak mau. Baiklah kita menyimpan sepatu kita untuk diri kita sendiri. Bahkan terhadap anak pun, pada siapa saya bertanggung jawab untuk mendidik, saya tak layak memakaikan sepatu saya padanya. Kenyamanan sepatu kita bukan untuk disombongkan. Tapi untuk kita rasakan sendiri.

Ketika ada yang bertanya : "Bagaimana sepatumu kok bisa tampak sangat nyaman buatmu?" barulah kita bisa memaparkannya, tapi bukan untuk memaksa orang lain memakai sepatu kita.

Comments

Popular Posts