Skip to main content

Featured

Masih Ragu Untuk Menerima Vaksinasi Covid-19? Ini Pengalamanku

Vaksinasi Covid-19, bagiku ini adalah antara maju dan mundur, tidak sepasti orang lain yang tidak memiliki "teman" dalam tubuhnya. Aku berteman dengan diabetes type 1 yang adalah autoimmune dan sudah nyeret si hipertensi. Waktu awal-awal vaksin Covid beredar katanya penyintas autoimmune tidak boleh vaksin, lalu belakangan katanya: gak apa-apa, asalkan terkontrol. Nah, definisi "terkontrol" ini sejauh apa? Aku gak tahu.  Kalau dilihat dari nilai HbA1C jelas diabetesku gak terkontrol, begitu juga kalau dilihat dari tensi, tak terkontrol juga, tapi memang sih angka burukku gak pernah berlebihan buruknya. Seperti misalnya diabetes, angkaku gak pernah lebih dari 400, lalu tensi juga gak pernah lebih dari 180/100. Tapi apa itu "terkontrol"? Suatu saat pengelola Apartemen Greenbay tempat aku tinggal mengumumkan dibukanya pendaftaran vaksinasi untuk usia dewasa 18-59 tahun, nekat aja aku daftar padahal belum tahu bisa atau nggak. Waktu itu yang semangat mendaftark

Masuk Hall Of Fame Dalam World Spelling Games - World Education Games

Pandu H dari Team Indonesia adalah anak saya ^_^

Ini adalah kelanjutan dari postingan sebelumnya yaitu tentang Mengikuti Kompetisi Tingkat Dunia Untuk Pertama Kalinya. Pagi ini anak saya melihat bagian "Hall Of Fame" di website kompetisi World Educational Games yang dia ikuti untuk World Spelling Day dan World Math Day. Saya jelaskan padanya tentang Hall Of Fame ini, yaitu kumpulan 100 nama peserta dengan prestasi terbaik.

Tak saya duga, Pandu ternyata sangat berambisi memasukkan namanya di Hall Of Fame tersebut! Dia memiliki motivasi internal untuk berkompetisi! YA! Ini sebetulnya yang dia butuhkan untuk bertahan, menghadapi masalah dan soal, mengatasi ketakutannya sendiri, mengatasi kepanikannya sendiri.

Di awal usahanya, anak saya masih mengalami suatu kepanikan yang mengakibatkan kesulitan untuk berpikir. Waktu itu dia berhadapan dengan anak dari Jepang dalam math. Dalam pemikirannya, orang Jepang adalah orang yang cerdas. Tapi saya katakan TIDAK! Tidak semua orang Jepang lebih cerdas daripada orang Indonesia, dan tidak semua orang Indonesia lebih bodoh daripada orang Jepang.

Saya lalu memberi tips pada anak saya : "Tidak semua orang Jepang lebih cerdas daripada kau. Kau dan orang Jepang itu sama-sama masih belajar. Just do your best! Lakukan perhitunganmu, tak perlu kau toleh orang Jepang itu, dan kau akan lihat bahwa kau tidak lebih bodoh daripada orang Jepang!" Dan benar, pada kompetisi selanjutnya, Pandu berhadapan dengan anak Jepang yang sama, namun bisa berhasil mengalahkannya!

Begitu pun dalam spelling, Pandu bahkan bisa mengalahkan peserta yang bahasa ibunya adalah bahasa Inggris! Bahkan dia berhasil masuk ke Hall Of Fame untuk World Spelling Day terlebih dahulu. Dalam menjawab tiap pertanyaan saya tidak membantu anak saya, hanya mendampingi duduk di sebelahnya. Yang luar biasa, saya bahkan terkagum-kagum dengan kemampuan listening (yang dibutuhkan dalam kompetisi spelling) Pandu yang tak terduga. Sebab, kami tidak membiasakan Pandu dengan bahasa Inggris dalam pergaulan sehari-hari. Hanya dalam belajar formal bahasa Inggris saja kami menggunakan bahasa Inggris. Kemampuan English anak saya memang banyak didapat dari film edukasi semisal yang sering ditayangkan di NatGeo Wild atau Animal Planet, atau BBC Knowledge.

Itulah berkat-berkat yang kami dapat dari belajar berkompetisi ini. Kami bangga dengan motivasi internal yang berhasil dikembangkan Pandu. Bahkan Kedua Oma dan Opanya pun bangga. Senang sekali dengan pencapaian sikap mental berkompetisi yang baik ini, walaupun masih tetap harus dikembangkan. Perjalanan masih panjang.

Comments

Post a Comment

Popular Posts