Skip to main content

Featured

Masih Ragu Untuk Menerima Vaksinasi Covid-19? Ini Pengalamanku

Vaksinasi Covid-19, bagiku ini adalah antara maju dan mundur, tidak sepasti orang lain yang tidak memiliki "teman" dalam tubuhnya. Aku berteman dengan diabetes type 1 yang adalah autoimmune dan sudah nyeret si hipertensi. Waktu awal-awal vaksin Covid beredar katanya penyintas autoimmune tidak boleh vaksin, lalu belakangan katanya: gak apa-apa, asalkan terkontrol. Nah, definisi "terkontrol" ini sejauh apa? Aku gak tahu.  Kalau dilihat dari nilai HbA1C jelas diabetesku gak terkontrol, begitu juga kalau dilihat dari tensi, tak terkontrol juga, tapi memang sih angka burukku gak pernah berlebihan buruknya. Seperti misalnya diabetes, angkaku gak pernah lebih dari 400, lalu tensi juga gak pernah lebih dari 180/100. Tapi apa itu "terkontrol"? Suatu saat pengelola Apartemen Greenbay tempat aku tinggal mengumumkan dibukanya pendaftaran vaksinasi untuk usia dewasa 18-59 tahun, nekat aja aku daftar padahal belum tahu bisa atau nggak. Waktu itu yang semangat mendaftark

My War

Walaupun ini serangan kedua, tetap saja membuatku merasa panik dan takut. Serangan pertama aku dapatkan ketika aku masih kuliah, sekitar 15 tahun yang lalu.

Tiba-tiba, ketika malam hari mau tidur, aku menemukan benjolan itu, di dada kanan bawah. Kaget juga, denial juga. Aku bawa pikiranku menolak kehadirannya. Kuanggap itu sebagai bagian dari tulang iga, lalu kuraba dada kiriku. Ternyata tidak sama, jadi bukan tulang kan....

Lalu kuanggap itu sebagai memar karena terantuk ketika bermain dengan anakku. Mustahil! Tidak mungkin memar seperti itu.

Aku lalu browsing dari hapeku, mencari informasi tentang "tumor dan kanker payudara". Aku menemukannya. Tanda-tandanya serem deh : selain benjolan, ada puting lepas, puting mengeluarkan cairan hingga darah, payudara berubah warna dan mengkerut seperti kulit jeruk... nah serem ya ternyata...

Beberapa bulan lalu, ketika mertua saya dirawat di rumah sakit karena tulang bahunya retak, saya melihat seorang ibu yang sekamar dengan mertua saya. Dia menderita kanker payudara. Kondisinya sangat menyedihkan. Tidak! Aku tidak mau menjalani kondisi itu! Aku harus bangkit dan menyatakan perang! Aku bukan perempuan lemah. Bahkan jika harus berakhir, bukan penyakit itu yang akan mengakhiriku. Tapi diriku sendiri dengan pilihan sadarku. Karena aku lebih kuat daripada penyakit itu! Genderang perang pun kutabuh.

Lagipula, belum pasti aku kanker! Aku baru menyadari bahwa aku takut sebelum berperang. Ketika sadar bahwa ini bisa jadi hanya tumor jinak yang bisa menghilang begitu saja, aku langsung kontak seorang teman baik yang adalah dokter umum. Dia menunjukkan cara pemeriksaan padaku. Dari pemeriksaan itu, aku mendapati bahwa ini adalah tumor jinak, karena benjolan itu ternyata bisa digerakkan. Kalau tidak bergerak itu artinya kanker karena kanker memiliki akar untuk menancapkan diri kuat-kuat. Semoga ini benar.

Comments

Popular Posts