Skip to main content

Featured

Masih Ragu Untuk Menerima Vaksinasi Covid-19? Ini Pengalamanku

Vaksinasi Covid-19, bagiku ini adalah antara maju dan mundur, tidak sepasti orang lain yang tidak memiliki "teman" dalam tubuhnya. Aku berteman dengan diabetes type 1 yang adalah autoimmune dan sudah nyeret si hipertensi. Waktu awal-awal vaksin Covid beredar katanya penyintas autoimmune tidak boleh vaksin, lalu belakangan katanya: gak apa-apa, asalkan terkontrol. Nah, definisi "terkontrol" ini sejauh apa? Aku gak tahu.  Kalau dilihat dari nilai HbA1C jelas diabetesku gak terkontrol, begitu juga kalau dilihat dari tensi, tak terkontrol juga, tapi memang sih angka burukku gak pernah berlebihan buruknya. Seperti misalnya diabetes, angkaku gak pernah lebih dari 400, lalu tensi juga gak pernah lebih dari 180/100. Tapi apa itu "terkontrol"? Suatu saat pengelola Apartemen Greenbay tempat aku tinggal mengumumkan dibukanya pendaftaran vaksinasi untuk usia dewasa 18-59 tahun, nekat aja aku daftar padahal belum tahu bisa atau nggak. Waktu itu yang semangat mendaftark

Nyanyian Jiwa (Book Review)

Buku puisi. Wow... tak terpikir bahwa saya akan membuka sebuah buku puisi! Sejak dulu saya tak suka puisi. Tiap kali saya mendengar atau membaca kata puisi, yang muncul pertama kali dalam pikiran saya adalah : barisan kata-kata bermakna kesedihan. Saya tak suka segala tulisan yang mengandung makna kesedihan. Bagi saya, sebuah bacaan itu harus menghibur dan mengisi otak saya dengan pengetahuan, bukan kesedihan. OK, saya kedengaran egois ya... no problem, semua orang punya preferensinya masing-masing, dan inilah preferensi saya.

Suatu ketika, saya membuka facebook, saya mendapat kabar bahwa seorang teman saya membuat buku, BUKU PUISI! Why puisi?? Itulah yang ada dalam benak saya. Tapi pada waktu itu ada sebuah pemikiran lain, saya mau buka pikiran saya untuk menikmati tulisan teman saya ini, saya mau sedikit memahami pemikirannya melalui tulisannya.

Ternyata, setelah membaca buku setebal 107 halaman ini, saya mendapati isinya persis dengan sosok penulisnya! Seseorang yang akrab, kritis, dan humoris! Di bawah ini adalah salah satu puisinya yang menurut saya mengandung humor :


Well, meskipun begitu, ada bagian-bagian yang membuat saya sangat terharu. Beberapa puisi yang benar-benar menunjukkan posisi seorang Alfiyah sebagai istri, kesayangan almarhum suaminya, dan posisinya sebagai anak, juga sebagai ibu dari anak-anaknya. Benar-benar menyentuh dan bisa menjadi nyata melalui tulisan yang berkata jujur, tidak idealis.

Buku puisi ini tidak terkesan berat, seperti buku puisi yang dulu-dulu pernah saya baca, hingga membuat saya menolak baca puisi. Tulisannya sangat ringan, mudah dicerna oleh quick reader seperti saya, namun tetap berada dalam koridor puisi yang menarik. Semoga buku-buku Alfiyah selanjutnya tetap mencerminkan pribadi penulis seperti saat ini, tidak terlalu idealis, tetap jujur dan ringan, sehingga seorang ibu rumah tangga seperti saya tetap bisa menikmati karya puisi yang indah. 

Comments

Popular Posts