Skip to main content

Featured

Procrastination

PERHATIAN:  Tulisan ini hanya untuk dibaca oleh orang-orang yang sudah dewasa. TIDAK untuk dibaca anak-anak atau orang dewasa yang belum punya kedewasaan pribadi. Penulis tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.  ========================== Hadirin pada pertemuan German Association of Arts and Sciences tahun 1875 dikejutkan oleh atraksi dua orang pria yang meminum arsenic dengan dosis yang dianggap cukup mematikan. Tahu kan apa itu arsenic? Masih ingat kan berita tentang kopi arsenic Mirna dan jus jeruk Alm. Munir yang mengandung arsenic? Dari kedua berita ini kita tahu bahwa arsenic sangat mematikan.  Apa yang terjadi pada kedua pria yang meminum arsenic dalam meeting itu? Apa mereka meninggal dengan tragis? Hari berikutnya dalam meeting yang sama, mereka hadir dengan kondisi sehat dan senyum ceria! KOK BISA? “Pasti mereka punya penawarnya!” begitu kan pikiran Anda? Tidak, mereka tidak punya penawarnya.  Lama sebelum meeting itu diadakan, kedua pria itu telah

Mendidik Dengan Senyum

Sepanjang perjalanan saya mendidik anak, tentu ada jatuh-bangunnya. Apalagi sebagai orang tua, saya adalah orang tua baru, maksudnya, saya belum pernah menjadi orang tua sebelum anak saya lahir. Tahapan demi tahapan perkembangan anak dengan segala perkembangan emosional dan kecerdasan yang baru menimbulkan tantangan yang baru pula. Tantangan untuk memperbaiki diri.

Tujuannya apa sih? Tentu saja tujuannya adalah menjaga hubungan baik dengan anak, supaya anak tidak takut-takut dalam berkomunikasi dengan saya, karena dengan lancarnya komunikasi, membimbing anak menuju jalan kebenaran pun tidaklah sulit. Tugas orang tua adalah membimbing anak menuju kebenaran dan kebahagiaan sejati. Jika hubungan orang tua - anak retak, tidak harmonis, ada halangan dalam berkomunikasi, tentu saja bimbingan orang tua pun tidak bisa diterima anak, akibatnya anak akan dengan mudah tersesat dalam ketidakbenaran. Apakah orang tua mau anaknya demikian? Tentu tidak. Nah, saya pun demikian, oleh karena itu saya selalu belajar dan mengembangkan diri.

Salah satu cara untuk membina komunikasi dengan anak adalah dengan meniadakan bentakan. Dengan membentak, pesan yang diterima anak adalah : ibu marah. Sudah itu saja, pesan lainnya tak diterimanya. Jadi... percuma saja menyampaikan pesan melalui bentakan.

Banyak efek negatif dari bentakan selain yang telah saya sebut diawal. Antara lain : ketika ibu marah, tekanan darah cenderung tinggi, detak jantung pun bertambah cepat, tingkat stress bertambah, anak ketakutan, pesan moral kebaikan tak tersampaikan. Percuma saja membentak.

Jadi, mana yang lebih baik? Komunikasi lancar dengan berbicara baik-baik, atau dengan membentak? Dengan mengingat efek-efek bentakan di atas, harapannya ibu akan mulai melatih diri untuk tidak membentak. Mendidik dengan senyum adalah jauh lebih baik hasilnya.

Comments

Popular Posts