Skip to main content

Featured

Masih Ragu Untuk Menerima Vaksinasi Covid-19? Ini Pengalamanku

Vaksinasi Covid-19, bagiku ini adalah antara maju dan mundur, tidak sepasti orang lain yang tidak memiliki "teman" dalam tubuhnya. Aku berteman dengan diabetes type 1 yang adalah autoimmune dan sudah nyeret si hipertensi. Waktu awal-awal vaksin Covid beredar katanya penyintas autoimmune tidak boleh vaksin, lalu belakangan katanya: gak apa-apa, asalkan terkontrol. Nah, definisi "terkontrol" ini sejauh apa? Aku gak tahu.  Kalau dilihat dari nilai HbA1C jelas diabetesku gak terkontrol, begitu juga kalau dilihat dari tensi, tak terkontrol juga, tapi memang sih angka burukku gak pernah berlebihan buruknya. Seperti misalnya diabetes, angkaku gak pernah lebih dari 400, lalu tensi juga gak pernah lebih dari 180/100. Tapi apa itu "terkontrol"? Suatu saat pengelola Apartemen Greenbay tempat aku tinggal mengumumkan dibukanya pendaftaran vaksinasi untuk usia dewasa 18-59 tahun, nekat aja aku daftar padahal belum tahu bisa atau nggak. Waktu itu yang semangat mendaftark

Blog Saya Untuk Orang Yang Enggan Membaca Bahasa Inggris


Suatu hari, seorang teman menanyakan pada saya: "Mengapa blogmu tidak di-positioning-kan untuk dunia internasional? Content-nya sudah bagus, tinggal diganti pakai bahasa Inggris saja." Ide yang sangat menggoda! Tahu gak bedanya ngeblog berbahasa Indonesia dengan berbahasa Inggris (note: bahasa internasional)? Beda banget!

Blog yang memakai bahasa Inggris lebih banyak pembacanya dan lebih memiliki kesempatan untuk menggali keuangan dari blog tersebut. Mengapa? Karena di luar negeri sana, banyak orang yang menerbitkan buku sendiri atau produk-produk digital lainnya untuk dijual dan menawarkan sistem afiliasi, yaitu sistem bagi hasil yang menguntungkan pemilik blog. Produk digital tersebut kebanyakan menggunakan bahasa Inggris, dan jika produk tersebut ditawarkan di blog yang pemirsanya berbahasa Indonesia, akan sulit laku. Itulah yang saya hadapi dengan tetap memelihara blog ini dalam bahasa Indonesia.

Dengan "kerugian" tersebut, mengapa saya tetap bersikukuh memakai bahasa Indonesia?

Pengetahuan yang disampaikan dengan berbahasa Inggris sudah sangat banyak. Padahal, walaupun kursus bahasa Inggris sudah menjamur dan mudah diakses, namun masyarakat Indonesia masih banyak yang enggan jika diminta membaca text bahasa inggris. Namun, pengetahuan yang berkualitas juga harus mereka dapatkan.

Berbagai planner gratisan juga banyak yang menggunakan bahasa Inggris. Sangat kurang yang menggunakan bahasa Indonesia. Bukankah akan sangat menarik jika kita memiliki planner yang berbahasa Indonesia? Nilai lokalnya sangat berasa. Begitu juga dengan buku-buku elektronik yang diberikan secara gratis namun berkualitas.

Dorongan hati nurani saya mengatakan bahwa saya ada untuk memenuhi kebutuhan ini. Setiap orang berhak membaca pengetahuan berkualitas, termasuk mereka yang enggan berbahasa Inggris. Tapi jangan dipikir bahwa saya mantap dalam pilihan saya ini... tidak! Godaan untuk menambahkan pemasukan dengan mengubah blog ini menjadi berbahasa Inggris sangatlah besar. Tapi saya selalu kembali pada option untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia.

Syukurlah, sekarang ada fitur translate yang bisa mengubah postingan ke dalam berbagai bahasa sesuai kebutuhan pembacanya. Walaupun tak sempurna, tapi tentu bisa dipakai oleh pembaca yang ingin membacanya dalam bahasa Inggris. Saya hanya harus menyajikannya dalam bahasa Indonesia yang baku supaya hasil translator-nya tidak melenceng jauh dari makna yang sebenarnya.

Sebetulnya, yang saya lakukan ini mengacu pada tindakan tiga orang majus, mereka mengikuti bintang untuk menemukan bayi Yesus. Mereka tidak mengikuti kehendak mereka sendiri. Ada petunjuk dari Allah yang mereka gunakan untuk menemukan jalan.

Sebagai manusia yang terus mencari jalan menuju kehendakNya, kita juga seharusnya lebih pandai membaca tanda-tanda yang Dia kirim. Pada diri saya, Dia mengirimkan tanda bahwa saya harus melayani orang yang berbahasa Indonesia, tidak mampu berbahasa Inggris. SuaraNya sangat jelas terdengar, bahkan mengalahkan kebutuhan keuangan yang bisa saya penuhi dengan melakukan hal yang sebaliknya.

Siapkah kita mendengar suaraNya dan mengikutiNya?

Comments

Post a Comment

Popular Posts