Skip to main content

Featured

Masih Ragu Untuk Menerima Vaksinasi Covid-19? Ini Pengalamanku

Vaksinasi Covid-19, bagiku ini adalah antara maju dan mundur, tidak sepasti orang lain yang tidak memiliki "teman" dalam tubuhnya. Aku berteman dengan diabetes type 1 yang adalah autoimmune dan sudah nyeret si hipertensi. Waktu awal-awal vaksin Covid beredar katanya penyintas autoimmune tidak boleh vaksin, lalu belakangan katanya: gak apa-apa, asalkan terkontrol. Nah, definisi "terkontrol" ini sejauh apa? Aku gak tahu.  Kalau dilihat dari nilai HbA1C jelas diabetesku gak terkontrol, begitu juga kalau dilihat dari tensi, tak terkontrol juga, tapi memang sih angka burukku gak pernah berlebihan buruknya. Seperti misalnya diabetes, angkaku gak pernah lebih dari 400, lalu tensi juga gak pernah lebih dari 180/100. Tapi apa itu "terkontrol"? Suatu saat pengelola Apartemen Greenbay tempat aku tinggal mengumumkan dibukanya pendaftaran vaksinasi untuk usia dewasa 18-59 tahun, nekat aja aku daftar padahal belum tahu bisa atau nggak. Waktu itu yang semangat mendaftark

Natal Bukan Tentang Memberi Hadiah Pada Orang Kaya

"Kamu minta kado apa untuk Natal?"
Inilah pertanyaan yang sering saya dengar pada saat-saat menjelang Natal. Saya juga sempat menanyakan hal yang sama pada beberapa kali Natal, terutama ketika anak saya baru bisa komunikasi sejak bayi. Senang kalau bisa menanyakan dan mengabulkannya. Demikian juga dengan para keponakan, juga untuk senang-senangnya kami sendiri, yaitu makan-makan, bepergian, dsb. Kami kehilangan makna Natal itu.

Namun tahun-tahun terakhir ini saya kembali merenung, pada waktu Natal, apa yang diperingati? Kelahiran Yesus Kristus. Lalu, untuk siapa Yesus dilahirkan? Untuk manusia yang jauh dari Allah, mendekatkan mereka pada Allah kembali. Kado yang tepat untuk diberikan pada waktu ini adalah segala hal yang bisa mendekatkan orang-orang terkasih padaNya. Bukan benda-benda yang mewakili sifat hedonisme dan konsumtif. Dan siapa yang tepat untuk menerimanya? Semua orang yang jauh dari Allah.

Saya mulai mengubah pandangan dalam mencari kado. Yang jadi patokan bukan lagi: "Apa yang dia sukai?" Tapi: "Apa yang bisa mendekatkannya pada Allah sang Alpha Omega?" Dengan pandangan ini pun, semua orang bisa memberikan kado Natal bagi orang-orang yang dikasihi, tidak melulu monopoli orang berduit. Karena kado Natal tak lagi terkait dengan benda-benda konsumtif-hedonisme.

Pada Lukas 2:8-14, para malaikat secara khusus menampakkan diri pada para gembala, menunjukkan dan mengirim berita tentang keberadaan Yesus. Itulah kado Natal terindah bagi para gembala, yaitu petunjuk bahwa Sang Penyelamat telah ada.

Siapkah kita memberi kado Natal paling bermakna?

Comments

Popular Posts