Skip to main content

Featured

Procrastination

PERHATIAN:  Tulisan ini hanya untuk dibaca oleh orang-orang yang sudah dewasa. TIDAK untuk dibaca anak-anak atau orang dewasa yang belum punya kedewasaan pribadi. Penulis tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.  ========================== Hadirin pada pertemuan German Association of Arts and Sciences tahun 1875 dikejutkan oleh atraksi dua orang pria yang meminum arsenic dengan dosis yang dianggap cukup mematikan. Tahu kan apa itu arsenic? Masih ingat kan berita tentang kopi arsenic Mirna dan jus jeruk Alm. Munir yang mengandung arsenic? Dari kedua berita ini kita tahu bahwa arsenic sangat mematikan.  Apa yang terjadi pada kedua pria yang meminum arsenic dalam meeting itu? Apa mereka meninggal dengan tragis? Hari berikutnya dalam meeting yang sama, mereka hadir dengan kondisi sehat dan senyum ceria! KOK BISA? “Pasti mereka punya penawarnya!” begitu kan pikiran Anda? Tidak, mereka tidak punya penawarnya.  Lama sebelum meeting itu diadakan, kedua pria itu telah

Natal Bukan Tentang Memberi Hadiah Pada Orang Kaya

"Kamu minta kado apa untuk Natal?"
Inilah pertanyaan yang sering saya dengar pada saat-saat menjelang Natal. Saya juga sempat menanyakan hal yang sama pada beberapa kali Natal, terutama ketika anak saya baru bisa komunikasi sejak bayi. Senang kalau bisa menanyakan dan mengabulkannya. Demikian juga dengan para keponakan, juga untuk senang-senangnya kami sendiri, yaitu makan-makan, bepergian, dsb. Kami kehilangan makna Natal itu.

Namun tahun-tahun terakhir ini saya kembali merenung, pada waktu Natal, apa yang diperingati? Kelahiran Yesus Kristus. Lalu, untuk siapa Yesus dilahirkan? Untuk manusia yang jauh dari Allah, mendekatkan mereka pada Allah kembali. Kado yang tepat untuk diberikan pada waktu ini adalah segala hal yang bisa mendekatkan orang-orang terkasih padaNya. Bukan benda-benda yang mewakili sifat hedonisme dan konsumtif. Dan siapa yang tepat untuk menerimanya? Semua orang yang jauh dari Allah.

Saya mulai mengubah pandangan dalam mencari kado. Yang jadi patokan bukan lagi: "Apa yang dia sukai?" Tapi: "Apa yang bisa mendekatkannya pada Allah sang Alpha Omega?" Dengan pandangan ini pun, semua orang bisa memberikan kado Natal bagi orang-orang yang dikasihi, tidak melulu monopoli orang berduit. Karena kado Natal tak lagi terkait dengan benda-benda konsumtif-hedonisme.

Pada Lukas 2:8-14, para malaikat secara khusus menampakkan diri pada para gembala, menunjukkan dan mengirim berita tentang keberadaan Yesus. Itulah kado Natal terindah bagi para gembala, yaitu petunjuk bahwa Sang Penyelamat telah ada.

Siapkah kita memberi kado Natal paling bermakna?

Comments

Popular Posts