Skip to main content

Featured

Procrastination

PERHATIAN:  Tulisan ini hanya untuk dibaca oleh orang-orang yang sudah dewasa. TIDAK untuk dibaca anak-anak atau orang dewasa yang belum punya kedewasaan pribadi. Penulis tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.  ========================== Hadirin pada pertemuan German Association of Arts and Sciences tahun 1875 dikejutkan oleh atraksi dua orang pria yang meminum arsenic dengan dosis yang dianggap cukup mematikan. Tahu kan apa itu arsenic? Masih ingat kan berita tentang kopi arsenic Mirna dan jus jeruk Alm. Munir yang mengandung arsenic? Dari kedua berita ini kita tahu bahwa arsenic sangat mematikan.  Apa yang terjadi pada kedua pria yang meminum arsenic dalam meeting itu? Apa mereka meninggal dengan tragis? Hari berikutnya dalam meeting yang sama, mereka hadir dengan kondisi sehat dan senyum ceria! KOK BISA? “Pasti mereka punya penawarnya!” begitu kan pikiran Anda? Tidak, mereka tidak punya penawarnya.  Lama sebelum meeting itu diadakan, kedua pria itu telah

Sampaikan Kabar Baik, Sampaikan Penguatan, Sampaikan Ketulusan


"Mulutmu harimaumu"

Itulah istilah yang sering kita dengar jika ingin menegur orang yang suka bicara buruk. Beberapa tahun ini, orang tak hanya berkata buruk melalui mulutnya, tapi juga melalui tulisannya. Terutama tulisan di berbagai media sosial. Merebaknya media sosial membuat orang semakin merasa bebas berekspresi, termasuk ekspresi tulisan. Sayangnya kebebasan ini jarang diiringi oleh tanggung jawab dan kasih.

Alkitab mengajarkan kita untuk menegur. Tapi, menegur dengan kasih. Bukan dengan maksud lain atau dengan diiringi rasa marah. Menegur dengan kasih adalah menegur dengan lembut dan dengan maksud perbaikan. Tak akan ada perbaikan jika diiringi dengan amarah dan pertengkaran.

Tak hanya soal teguran, perkataan buruk juga hadir dalam bentuk fitnah, ketidakpedulian, egosentris yang disembunyikan dalam wujud peduli berlebihan, dan keinginan untuk melemahkan semangat.

Dalam peristiwa Natal, malaikat hadir diantara para malaikat untuk menyampaikan kabar baik. Dengan perkataannya malaikat memberi semangat, menguatkan, dan menyampaikan berita yang menyenangkan. Jika berimajinasi, kita bisa bayangkan wajah para gembala yang awalnya kaget menjadi penuh kegembiraan dan semangat.

Bagaimana jika kita menjadi "malaikat" bagi sesama kita? Tak perlu memiliki fisik yg cantik. Cukuplah dengan kepribadian yang selalu ingin membantu, menyemangati, dan mengasihi.

Belajarlah mulai sekarang, dimulai dari membiasakan diri berkata yang lembut, menulis yang menyemangati. Dan iringi dengan hati yang menyampaikannya dengan penuh ketulusan. Membiasakan diri seperti ini akan membawa banyak pengaruh positif bagi perkembangan diri dan kebahagiaan sekitar.

Mampukah diri kita berubah ke arah yang lebih baik? Pasti bisa. Manusia punya instink menjadi pribadi yang lebih baik. 

Comments

Popular Posts