Skip to main content

Featured

Masih Ragu Untuk Menerima Vaksinasi Covid-19? Ini Pengalamanku

Vaksinasi Covid-19, bagiku ini adalah antara maju dan mundur, tidak sepasti orang lain yang tidak memiliki "teman" dalam tubuhnya. Aku berteman dengan diabetes type 1 yang adalah autoimmune dan sudah nyeret si hipertensi. Waktu awal-awal vaksin Covid beredar katanya penyintas autoimmune tidak boleh vaksin, lalu belakangan katanya: gak apa-apa, asalkan terkontrol. Nah, definisi "terkontrol" ini sejauh apa? Aku gak tahu.  Kalau dilihat dari nilai HbA1C jelas diabetesku gak terkontrol, begitu juga kalau dilihat dari tensi, tak terkontrol juga, tapi memang sih angka burukku gak pernah berlebihan buruknya. Seperti misalnya diabetes, angkaku gak pernah lebih dari 400, lalu tensi juga gak pernah lebih dari 180/100. Tapi apa itu "terkontrol"? Suatu saat pengelola Apartemen Greenbay tempat aku tinggal mengumumkan dibukanya pendaftaran vaksinasi untuk usia dewasa 18-59 tahun, nekat aja aku daftar padahal belum tahu bisa atau nggak. Waktu itu yang semangat mendaftark

Ketertutupan Dan Kesehatan Jiwa

Beberapa bulan lalu, sekitar 5-6 bulan, beban terberatku ada pada seorang kerabat yang sedang punya masalah berat, tapi sama sekali tak mau menceritakan masalahnya itu pada kami sebagai keluarga dekatnya. Betapa beratnya masalah itu, hingga terbawa ke kondisi fisiknya yang melemah dari hari ke hari.

Dan sialnya, kondisi fisik yang dideritanya adalah kanker paru-paru! You know lah... kanker paru-paru itu sangat mematikan. Suaminya adalah perokok aktif (sangat aktif!), sehingga dia adalah perokok pasif dan dalam waktu tidak sampai 5 bulan saja kanker paru-paru itu sudah mengambil kehidupannya! Ah sudahlah... itu masa lalu, tapi semoga jadi pelajaran bagi pembaca bahwa rokok itu sangat berbahaya dan perokok itu sangat menjengkelkan karena sulit disuruh berhenti.


A post shared by Maria Magdalena (@momanddiy) on

Eniwei, tulisanku kali ini bukan tentang dia.

Gini, akhirnya setelah melewati masa satu bulan sejak wafatnya kerabatku ini, aku mulai paham tentang ketertutupan dia, walaupun pada kerabat terdekatnya. Mulut yang terkunci rapat itu adalah hasil dari pola aksi-reaksi yang telah dia pelajari selama masa hidupnya.

Sigh! Aku telah mempelajarinya, dengan cara mengalaminya sendiri!

Ya, jika kita tak mengalami sendiri, kita tidak akan memahaminya!
Dalam masa satu bulan ini, aku pribadi banyak tertutup, tidak dengan mudahnya menceritakan apa yang terjadi padaku begitu saja pada teman atau bahkan suamiku. Seakan jari dan mulutku terkunci, untuk menuliskan atau mengucapkannya. Bahkan, tak ku tulis pula itu pada micro blogging media sosialku (Facebook! Ya, dulu aku biasa menuliskan apapun yang terlintas pada pikiran dan jadi bebanku).

Aku telah belajar, bahwa adalah sia-sia menyampaikan itu ke orang lain, meskipun itu orang terdekat. Aku telah belajar, bahwa dengan menyampaikannya, aku hanya akan jadi topik utama pergosipan. Bahkan aku telah belajar, bahwa dengan menyampaikan, aku bisa mendapat celaka, bukan solusi.

Namun, ketika segalanya telah tampak berhasil ditutupi, ternyata itu mewujud dalam wujud yang berbeda, wujud yang sangat tampak, walaupun itu dalam ranah psikologis. Stress, sakit fisik, ketidakmampuan memandang dari sisi yang positif, rasa tak berdaya, hingga amarah yang tak terbendung lagi.

Pengalaman inilah yang membuatku sadar, bahwa ada sesuatu yang salah. Dan aku tersadar, bahwa kesalahan itu tak boleh terjadi pada sosok yang saat ini menjadi tanggung jawabku: anakku!

Aku harus mencari suatu cara untuk memperbaiki diri sendiri demi mendewasakan anakku. 

Comments

Popular Posts