Skip to main content

Featured

Procrastination

PERHATIAN:  Tulisan ini hanya untuk dibaca oleh orang-orang yang sudah dewasa. TIDAK untuk dibaca anak-anak atau orang dewasa yang belum punya kedewasaan pribadi. Penulis tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.  ========================== Hadirin pada pertemuan German Association of Arts and Sciences tahun 1875 dikejutkan oleh atraksi dua orang pria yang meminum arsenic dengan dosis yang dianggap cukup mematikan. Tahu kan apa itu arsenic? Masih ingat kan berita tentang kopi arsenic Mirna dan jus jeruk Alm. Munir yang mengandung arsenic? Dari kedua berita ini kita tahu bahwa arsenic sangat mematikan.  Apa yang terjadi pada kedua pria yang meminum arsenic dalam meeting itu? Apa mereka meninggal dengan tragis? Hari berikutnya dalam meeting yang sama, mereka hadir dengan kondisi sehat dan senyum ceria! KOK BISA? “Pasti mereka punya penawarnya!” begitu kan pikiran Anda? Tidak, mereka tidak punya penawarnya.  Lama sebelum meeting itu diadakan, kedua pria itu telah

Ketika "Jangan Lupa Bahagia" Menjadi Sia-sia


"Stay Positive"
"Jangan lupa bahagia"

Itu semua adalah jargon yang sering kita dengar pada saat-saat ini, disaat wabah coronavirus menyerang kita. Namun sayangnya, yang mengucapkan jargon itu seringkali lupa menyertakan cara-caranya untuk stay positive dan jangan lupa bahagia! Sehingga jargon tinggallah jargon dan yang merasa depresi pun tetap depresi, walaupun yang mengucapkan jargon merasa dirinya sudah berjasa.

Saat-saat penuh tekanan adalah saat ketika manusia sudah tak bisa berpikir dengan logika lagi, tak bisa lagi berpikir mendalam. Yang dia rasakan hanyalah tekanan hidup. Segala input yang dia dengar atau rasakan hanyalah akan menambah tekanan hidupnya, termasuk jargon yang anda ucapkan itu. "Stay positive" dan "Jangan lupa bahagia" tidak menunjukkan apapun kecuali aturan dan perintah hidup. Kedua jargon ini tidak menunjukkan empati, perhatian, bahkan kasih. Dalam telinga orang yang depresi, kedua jargon ini lebih terdengar sebagai rules, aturan. Sehingga ketika dia mendengarnya, yang dia rasakan adalah "kamu mudah mengatakan itu, kamu gak ada di posisiku", ini membuat jargon anda terpental begitu saja dari pikirannya, tidak efektif lagi.

Lalu, apa yg bisa menyentuh hati dan pikiran seorang yang depresi? Berikan dia pelukan, nyatakan kasih sayang, buatlah dia tersenyum. Bukan aturan hidup. Kata-kata sederhana seperti:

"Peluk"
"Hugs" 
"Aku berdoa untukmu"

Itu akan lebih bermakna, itu menunjukkan perhatian anda, menunjukkan tindakan yang anda lakukan untuk dia. Dalam kata-kata ini anda tidak menyatakan aturan hidup atau perintah baginya untuk melakukan sesuatu. Tapi anda yang melakukan sesuatu untuk dia. Ini lebih berarti bagi teman yang depresi.

Comments

Popular Posts