Demi Anak

Hari ini saya ikut hadir di acara perdana komunitas robot Sidoarjo. Ketika sesi perkenalan tiba, saya memperkenalkan diri demikian :
"Saya Maria, kalau dari background pendidikan saya sama sekali tidak memiliki background robotik. Tapi saya hadir di sini mewakili anak saya yang suka robot tapi tidak suka rutinitas. Harapan saya, melalui komunitas ini minat anak saya bisa berkembang dan dia betah karena saya tahu bahwa dalam suatu komunitas tidak ada rutinitas yang menjemukan. Sekian."

Wah, benar-benar baru kali ini saya tidak mewakili diri sendiri. Saya mewakili anak saya. Benar, tujuan utama saya ada di dalam komunitas ini adalah untuk anak saya. Saya ini tidak familiar dengan dunia robotik, tapi saya sangat ingin memfasilitasi minat anak saya... oiya, dan minat anak-anak homeschooling di Klub Sinau terhadap robot.

Semoga komunitas ini membawa kebaikan bagi anak-anak dan pengembangan minat anak-anak, tidak terjebak dalam kesibukan administratif apalagi kesibukan birokratif dengan pihak manapun hingga melalaikan kegemaran akan robotik dan pengembangannya.

Tapi saya yakin teman-teman disini adalah orang-orang yang memang hidup untuk robotik itu sendiri. Semoga komunitas ini menjadi "rumah robotik" bagi Pandu dan anak-anak lain.

Saya sebagai orang tua sebisa mungkin memberikan sarana bagi anak saya dalam proses belajar homeschoolingnya. Ini bagian dari tanggung jawab saya sebagai orang tua homeschooling. Saya tidak bisa pasrah berpangku tangan menunggu sarana itu datang, lalu ngomel jika sarana itu tidak berhasil menjadi area pengembangan diri bagi anak, saya bukan type seperti itu. Apalagi dalam suatu komunitas, dimana badan penyusun komunitas itu adalah anggota-anggota komunitas itu sendiri. Badan komunitas bukanlah satu orang saja, tapi seluruh anggotanya. Jadi ketika saya terjun dalam suatu komunitas, maka saya pun menjadi penentu berkembang atau tidaknya komunitas itu.

Inilah yang membuat saya totalitas dalam terjun ke suatu bidang. Memang benar, bahwa saya tidak asal terjun, saya akan memikirkan secara mendalam dulu apa konsekuensi dan keuntungannya. Seperti halnya ketika saya terjun ke Second Life, maka saya totalitas juga dalam pengembangan diri saya di sana.

Comments

Popular Posts