Skip to main content

Featured

Menemukan Kembali Mood Menjahit Yang Pernah Hilang

Sudah hampir tiga bulan aku tidak menjahit apapun. Mesin jahit dan mesin obras tergeletak begitu saja penuh debu. Sedangkan meja mesin jahit pun penuh dengan berbagai benda yang tak lagi berguna. Selain itu, kain-kain stock pun berserakan di dalam kantong plastik dan di dalam kontainer besar yang sulit dibuka karena di atas kontainer itu ada kantong-kantong yang berisi baju-bajuku. Benar-benar berantakan! Akhir-akhir ini kondisi kamarku memang kacau, akibat dari tidak memiliki lemari sehingga kain-kain pun tidak terdisplay dengan baik. Ini membuatku sangat malas mencari-cari kain untuk dijahit karena sulit diakses. Rupanya aku tidak cocok menggunakan kontainer dan plastik-plastik untuk menyimpan kain-kain. Lalu kuputuskan untuk membeli dua lemari yang kupakai untuk tempat baju dan stock kain.  Aku membeli satu lemari bergambar jerapah (aku suka jerapah!) yang belum dirakit pada tanggal 1 Mei, lalu segera ku rakit keesokan harinya, setelah dirakit aku merasa lemari ini terlalu kecil, ti

Liburan = Kreatif


Everybody on vacation today!! But not us... kami memang tidak suka bergabung dalam keramaian liburan. Ketika liburan tiba, semua orang berbondong-bondong menyerbu tempat wisata, menutupi keindahan wisata yang ditawarkan, ini membuat kami tidak bisa menikmati pemandangan. Belum lagi kemacetannya, harga tiket tempat wisata maupun hotel yang melambung tinggi. Yaaaa.... segalanya jadi terasa tidak nyaman.

Saya cukup terheran-heran dengan orang yang suka bepergian waktu liburan, padahal dia tidak terikat jam kantor. Padahal dia sudah pensiun. Ya.. mungkin dengan bepergian bersamaan dengan crowded-nya lautan manusia di tempat wisata itu dia merasa mendapat pengakuan atau terlihat bisa bepergian. Entahlah... yang jelas saya tidak mau terlibat dalam "keramaian bodoh" ini. Kenapa? Ini alasannya :

1. Nonthok uwong (=melihat manusia). Ini adalah ungkapan seorang keponakan saya waktu masih balita, ketika dia terjatuh di sebuah tempat wisata karena "nonthok uwong". Tentu kecelakaan seperti ini tidak kami harapkan, apalagi dengan crowdednya manusia, tentu sangat tidak bebas bagi anak-anak untuk berkeliaran kesana-sini, beresiko hilang juga. Hal ini akan berpengaruh pada kelelahan orang tua, karena harus ekstra "pasang mata". Kalau suasana sepi, tentu anak akan bebas berkeliaran dan orang tua tidak takut anak akan hilang di antara lautan manusia.

2. Kami keluarga bebas. Ya, kami bebas jadwal. Jatah cuti suami seringkali kami gunakan untuk berwisata. Sedangkan anak saya homeschooling, saya sendiri bekerja di rumah. Apalagi yang mengikat kami? Tidak ada, jadi kami benar-benar memanfaatkan kebebasan ini.

3. Kami keberatan dengan kelelahan extra. Kemacetan, keributan lautan manusia, antri tiket masuk di loket, repot mencari hotel yang available, ah semua itu menimbulkan extra lelah. Kenapa harus berlelah-lelah jika bisa menghindarinya?

4. Kalau ke area wisata, yang kami butuhkan adalah tempat itu sendiri. Benar, bukan "bertemu lautan manusia". Tempat wisata itu akan terasa sangat nyaman jika tidak banyak manusia di sana. Kami bisa menikmati segala fasilitas yang disediakan tempat wisata, memandang pemandangannya dengan penuh ketenangan.

5. Kami suka kenyamanan. Kalau tidak banyak manusia, perasaan kami selama ada di tempat wisata itu jadi tenang, mau beli makanan tidak ngantri, mau nyari tempat duduk tidak berebut. Nyaman...

Liburan di rumah pun tidak kalah seru, kami bisa memasak bersama, atau sekedar jalan-jalan di sekitar rumah, alun-alun, piknik di bawah pohon di depan rumah, semua itu bisa memberi kesegaran baru. Yang penting kreatif, tidak ikut arus, dan menjadi diri sendiri, maka semua ide itu akan mengalir dengan sendirinya.

Masih butuh ide kegiatan mengisi liburan? Let me know... tulisa di kotak komentar, ok... ^_^

Comments

Popular Posts