Skip to main content

Featured

Menemukan Kembali Mood Menjahit Yang Pernah Hilang

Sudah hampir tiga bulan aku tidak menjahit apapun. Mesin jahit dan mesin obras tergeletak begitu saja penuh debu. Sedangkan meja mesin jahit pun penuh dengan berbagai benda yang tak lagi berguna. Selain itu, kain-kain stock pun berserakan di dalam kantong plastik dan di dalam kontainer besar yang sulit dibuka karena di atas kontainer itu ada kantong-kantong yang berisi baju-bajuku. Benar-benar berantakan! Akhir-akhir ini kondisi kamarku memang kacau, akibat dari tidak memiliki lemari sehingga kain-kain pun tidak terdisplay dengan baik. Ini membuatku sangat malas mencari-cari kain untuk dijahit karena sulit diakses. Rupanya aku tidak cocok menggunakan kontainer dan plastik-plastik untuk menyimpan kain-kain. Lalu kuputuskan untuk membeli dua lemari yang kupakai untuk tempat baju dan stock kain.  Aku membeli satu lemari bergambar jerapah (aku suka jerapah!) yang belum dirakit pada tanggal 1 Mei, lalu segera ku rakit keesokan harinya, setelah dirakit aku merasa lemari ini terlalu kecil, ti

Product Review : Cloth Mens Pad

Mulai bulan ini (Juni 2011), saya mengganti mens pad saya dengan yang terbuat dari kain, tidak sekali pakai. Tapi karena masih peralihan, saya membeli hanya 2 mens pad, dan memutuskan untuk mencobanya dulu.

Saya membeli yang merk Cluebebe dan GG atas review mbak Way. Saya memilih yang "overnight", ini adalah pembalut yang untuk malam hari, karena mens saya termasuk "deras". Untuk yang merk Cluebebe harga per pcs adalah Rp. 39.000,- sedangkan yang GG harganya Rp. 36.000,- Memang untuk modal awalnya tampak mahal, bayangkan saja kebutuhan untuk satu bulan minim 5-6 mens pad, itu berarti mesti keluar uang sekitar Rp. 250.000 untuk membeli 5-6 mens pad. Namun, tiap mens pad bisa dipakai hingga 2 tahun. Ternyata jauh lebih irit kan... selain itu, kalau untuk saya ongkirnya pun murah meriah, karena yang jualan sekota dengan saya :) .

Pengalaman saya? Tidak tembus! Walaupun terbuat dari kain yang lembut, namun permukaannya tidak basah walaupun sedang "banjir". Selama pemakaian pertama, saya sempat berpikir : "Kok kali ini saya tidak sebanjir biasanya ya?" karena yang tampak di permukaan pembalut hanya bercak pink saja, bukan gumpalan-gumpalan seperti biasanya. Tapi ketika tiba waktunya mengganti pembalut dan mencucinya, pertama kali kena siram air, pembalut langsung memerah mengeluarkan isinya. Ternyata di dalamnya telah tersimpan banjiran itu. Hanya disiram sebentar darah pun bersih, lalu tinggal mengucek dengan sabun mandi batangan (saya sediakan sabun mandi khusus untuk mencuci pembalut-pembalut ini). Sabun mandi batangan sangat efektif untuk mencuci noda darah. Setelah itu dibilas hingga air bilasan bening, tidak bersabun sama sekali. Kalau membeli pembalut ini disertakan juga instruksi pencuciannya. Gampang kok.

Kenapa saya terdorong untuk memakai pembalut ini? Sebab : saya ingin go green, kasihan tuh pohon-pohon ditebangin hanya untuk nadahin mens. Lalu, saya juga ingin lebih sehat. Selembut apapun pembalut sekali pakai, untuk kulit saya tetap saja membuat iritasi selama mens, akibatnya adalah bisul yang muncul selama mens. Saya baca-baca, ternyata memakai pembalut dari kain akan lebih menghindarkan kita dari resiko iritasi ini.

Begitulah, yuk cobain pembalut ini ^_^

Update Januari 2018
Saya kembali memakai cloth mens pad ini, bahkan membeli lebih banyak untuk kebutuhan dalam satu siklus menstruasi. Kenapa saya memakai lagi setelah absen beberapa tahun?

Karena ternyata, akhir-akhir ini saya sering mengalami ruam kulit pada hari ke-2 mentruasi. Ini sangat mengganggu, bahkan beberapa kali area yang ruam menjadi bisul. Mungkin karena diabetes saya, sehingga ruam berubah menjadi infeksi yang lebih serius. Dengan mens pad kain ini, saya tidak mengalami ruam sama sekali.

Karena ternyata, area tempat tinggal saya yang baru ini mempunyai sampah plastik yang melimpah! Saya sebetulnya sangat prihatin dengan kondisi ini, namun belum bisa berbuat banyak. Dengan mengganti mens pad saya dengan yang kain, saya tidak lagi menimbulkan sampah pembalut, perekat pembalut yang notabene terbuat dari plastik, dan plastik kresek (untuk membuang pembalut) di area ini. Ini sumbangan kecil saya untuk area tempat tinggal saya yang baru.

Oiya, ternyata harga saat ini tidak jauh beda dengan harga tahun 2011 ketika pertama kali saya membeli mens pad kain.

Nah, makin mantaplah saya memakai mens pad kain ini!

Comments

  1. Lagi blogwalking, eh, nemu artikelnya Mbak Maria yang ini :)
    Saya juga pengguna Cloth Menstrual Pad setelah melahirkan Nendra (masa2 breastfeeding). Saya pake 6 pad (3 merk Charlie Banana dan 3 merk GG), dengan sistem cuci-kering-pakai :D

    Sayangnya kulit saya alergi terhadap residu detergent yang mengendap di mens pad, Mbak :( padahal rajin saya stripping pake RLR dan biji lerak bareng cloth diaper nya Nendra. Akhirnya sejak setahun terakhir saya beralih ke Moon Cup, perawatannya lebih mudah dibanding mens pad (tinggal dibuang isinya dan dibilas), trus awet dipakai hingga 10 tahun.

    ReplyDelete
  2. huaaah... saya kok ngeri pakai moon cup ya mbak :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts