Skip to main content

Featured

Menemukan Kembali Mood Menjahit Yang Pernah Hilang

Sudah hampir tiga bulan aku tidak menjahit apapun. Mesin jahit dan mesin obras tergeletak begitu saja penuh debu. Sedangkan meja mesin jahit pun penuh dengan berbagai benda yang tak lagi berguna. Selain itu, kain-kain stock pun berserakan di dalam kantong plastik dan di dalam kontainer besar yang sulit dibuka karena di atas kontainer itu ada kantong-kantong yang berisi baju-bajuku. Benar-benar berantakan! Akhir-akhir ini kondisi kamarku memang kacau, akibat dari tidak memiliki lemari sehingga kain-kain pun tidak terdisplay dengan baik. Ini membuatku sangat malas mencari-cari kain untuk dijahit karena sulit diakses. Rupanya aku tidak cocok menggunakan kontainer dan plastik-plastik untuk menyimpan kain-kain. Lalu kuputuskan untuk membeli dua lemari yang kupakai untuk tempat baju dan stock kain.  Aku membeli satu lemari bergambar jerapah (aku suka jerapah!) yang belum dirakit pada tanggal 1 Mei, lalu segera ku rakit keesokan harinya, setelah dirakit aku merasa lemari ini terlalu kecil, ti

Masa Peralihan




Ada masanya dalam hidupku aku mengalami peralihan sudut pandang. Maksudnya, ke arah mana pandanganku tersorot. Dimulai ketika gabung di berbagai mailing list pilihan, tiada hari tanpa melototin inbox. Ketika facebook baru hadir dalam hidupku, tiada hari kulewatkan sedikit pun tanpa membuka status teman, apalagi waktu itu facebook terasa lebih casual daripada milis. Ketika Second Life hadir, hampir 12 jam statusku di sana online terus, hingga mengembangkan bisnis juga di sana.

Lama kelamaan facebook pun tercemar dengan berbagai kepentingan, mulai dari penjual yang obsesif kompulsif banget dalam menawarkan dagangan, hingga orang-orang yang ingin mencuci otak sesamanya melalui pemuatan tulisan-tulisan singkat ideologinya. Dengan kondisi ini, apakah manusia bisa jadi dirinya sendiri? Apakah manusia diijinkan berpikir sendiri secara mandiri? Malah kecenderungannya, orang-orang dalam "mutual friend" itu memiliki pemikiran dan ide-ide yang sama, seragam, dan cenderung menyetujui pendapat dari orang yang dianggap "pemimpin". Ini sama sekali salah!

Manusia memiliki keinginan bebas, memiliki kemandirian. Hakekat manusia adalah bebas, kreatif, dan mandiri. Walaupun memang ada sebagian orang yang merasa lebih nyaman dengan mengikuti orang lain. Namun aku tidak demikian. Oleh karena sifat dasarku yang tidak ingin terikat dalam idealisme orang lain, tak ingin ikut arus mengadili kesalahan orang lain secara membabi buta, maka Facebook tak lagi kurasa nyaman.

Tapi berhubung masih banyak temanku yang sejati, yang baik, dan yang bisa saling mendukung yang tinggal di dalam facebook, maka aku pun masih mempertahankannya hanya agar bisa saling terhubung saja walaupun tidak se-intens dulu.

Sekarang hadir Google+ dengan segala keasyikannya yang baru. Disini aku bertekad memulai masa-masa baru dalam menjaring relasi. Yaitu relasi yang intens, saling mendukung, saling share, tidak menggelapkan hari-hari, tidak berisi relasi kosong hanya demi jumlah teman yang tampak banyak. Selain itu Google+ juga memungkinkan aku dan anakku untuk kontak dengan suami melalui video conference yang lancar. Sangat menyenangkan ^_^ ... sambil menunggu teman-teman pakai video juga di G+ biar bisa saling pandang muka.

Semoga arena pertemanan yang satu ini tidak tercemar. Tapi bagiku yang paling menyenangkan memang adalah blogging :))


Comments

Popular Posts