Fashion : Think Twice!

Tas saya yang berbahan kertas koran

Fashion cenderung terkait dengan hal-hal yang berbau kemewahan dan yang tidak lokal, apalagi yang berkonsep daur ulang. Saya mengajak teman-teman untuk mulai menggemari fashion berbahan baku lokal. Seperti pakaian dan tas dari kain nusantara.

Kain nusantara sangat indah dan cantik, mulai dari motif hingga bahan. Sebut saja bordir sutera yang menjadi salah satu industri di Sidoarjo. Atau kain Sasirangan dari Kalimantan Selatan. Jadi selain batik, nusantara kita kaya akan berbagai jenis kain yang indah, cantik, dan berbahan alam.

Memang saya akui harga kain nusantara yang cantik dengan kualitas yang bagus harganya lumayan mahal jika dibandingkan kain import. Apalagi harga baju jadinya. Sama-sama untuk keperluan pesta misalnya, membeli baju pesta berbahan kain nusantara bisa lebih mahal. Ada persaingan model, harga, dan kenyamanan pemakaian.

Namun bagi saya, memakai baju pesta dengan kain nusantara lebih membanggakan.

Itu baju, bagaimana dengan tas?

Tas palsu banyak beredar. Apa maksudnya? Yaitu tas yang memasang merk kelas atas, namun produsennya tak pernah membayar royalti pada pemilik merk. Ini sama saja dengan pembajakan. Bagaimana kaum perempuan menyikapi hal ini?

Berhati-hatilah membeli tas bajakan, karena beberapa bandara menerapkan pemeriksaan pada tas yang dicurigai sebagai merk bajakan ini.

Sekarang, setelah memiliki mesin jahit saya sangat senang karena bisa memproduksi tas saya sendiri. Memang belum sampai pada tahap menjual tas, hanya membuat untuk keperluan pribadi. Saya membuat berbagai tas dari kain batik dan daur ulang, seperti tas dari bekas celana jeans yang sudah kebesaran ukurannya. Saya senang tas seperti ini karena bisa sangat personal modelnya. Tidak pasaran. Unik. Pas dengan keinginan saya pribadi.

Saya ingat dulu ketika di sekolah dasar ibu saya pernah membuatkan saya tas dari kain batik dan diberi hiasan kancing Bali. Cantik sampai-sampai dikagumi sama guru saya. Karena memang waktu itu tidak ada dijual di pasaran model tas yang seperti itu. Lalu waktu SMP, saya sudah membuat sendiri tas saya, dijahit kotak-kotak dengan hiasan aplikasi boneka dan pita. Cantik. Saya bangga memakainya di tengah hirup pikuk teman-teman yang sudah ribut dengan sikap konsumtif mereka.

Lalu, tahun lalu saya mendapat surprise dari seorang teman dekat, yang sangking dekatnya kami ini sampai jadi seperti saudara kembar. Surprisenya adalah tas berbahan kertas koran!! Cuantik banget... saya bangga memakai tas ini ke pestanya para sosialita maupun ke forum formal seperti waktu ketika launching salah satu buku saya. Dan dengan bangga pula saya katakan pada mereka bahwa yang saya pakai adalah tas dari kertas koran ... tas dari bahan yang seharusnya jadi anggota tempat sampah mereka.

Nah, bagaimana dengan teman perempuan? Masih mau pakai fashion bajakan? Atau berbalik ke bahan lokal yang tak kalah cantik? Tidak memakai fashion bajakan itu artinya :

- menghargai hasil karya desainer internasional dengan tidak membeli barang yang membajak karya mereka.

- menghargai karya bangsa sendiri dan bangga memakainya.

- memelihara para produsen dan karyawan yang bekerja untuk memajukan produk nusantara.

- menghemat uang dan punya rasa bangga atas benda-benda buatan sendiri.

Banyak keuntungannya kan dengan memakai produk lokal? Mari beralih.

Comments

Popular Posts