Skip to main content

Featured

Menemukan Kembali Mood Menjahit Yang Pernah Hilang

Sudah hampir tiga bulan aku tidak menjahit apapun. Mesin jahit dan mesin obras tergeletak begitu saja penuh debu. Sedangkan meja mesin jahit pun penuh dengan berbagai benda yang tak lagi berguna. Selain itu, kain-kain stock pun berserakan di dalam kantong plastik dan di dalam kontainer besar yang sulit dibuka karena di atas kontainer itu ada kantong-kantong yang berisi baju-bajuku. Benar-benar berantakan! Akhir-akhir ini kondisi kamarku memang kacau, akibat dari tidak memiliki lemari sehingga kain-kain pun tidak terdisplay dengan baik. Ini membuatku sangat malas mencari-cari kain untuk dijahit karena sulit diakses. Rupanya aku tidak cocok menggunakan kontainer dan plastik-plastik untuk menyimpan kain-kain. Lalu kuputuskan untuk membeli dua lemari yang kupakai untuk tempat baju dan stock kain.  Aku membeli satu lemari bergambar jerapah (aku suka jerapah!) yang belum dirakit pada tanggal 1 Mei, lalu segera ku rakit keesokan harinya, setelah dirakit aku merasa lemari ini terlalu kecil, ti

Indigenous Soto Ayam

Soto ayam. Berapa banyak dari kita yang tahu tentang soto ayam? Sebagian besar dari kita pasti tahu ya... atau bahkan semua pembaca artikel ini sudah tahu tentang soto ayam? Tak satu pun yang tahu asal mula soto ayam yang sebenarnya, yang jelas, makanan ini terkenal di Indonesia (khususnya terkenal berasal dari pulau Jawa), Singapore, dan Malaysia.

Namun begitu ada kekhasan penyajian dari tiap warung, kaki lima, depot, food court, atau resto yang menjual soto ayam. Mulai dari yang berkuah bening, berkoya banyak, berdaging banyak, berlontong, berketupat, berkuah super panas, memakai kripik kentang, pakai kecambah (tauge), pakai kol, dst.

Kalau selera saya pribadi, terus terang saya lebih suka soto ayam kaki lima. Kenapa? Kuahnya kental! Tidak bening! Kelihatan bumbu dan kaldunya. Koyanya? bebas ambil! Sambelnya juga. Kalau yang di resto kebanyakan kuahnya bening, kurang merakyat. Ya : merakyat! Ini adalah makanan rakyat, ketika mulai diperkenalkan pada masyarakat soto ayam dijual di warung dan gerobak, bukan di resto, sehingga, bagi saya, menikmatinya pun lebih enak kalau di gerobak.

Inilah yang saya sebut sebagai indigenous culinary, ketika menikmati kuliner dilakukan berdasarkan orisinalitas daerah asal kuliner tersebut. Beberapa penikmat kuliner cenderung suka menikmati dan mencicipi kuliner di tempat asal kuliner tersebut dan dengan cara yang sesuai dengan cara aslinya kuliner tersebut dihidangkan.

Sensasi emosionalitas dan originalitas makanan itulah yang merasuk ke dalam setiap suapan. Jadi, semakin expert seorang penikmat kuliner, dia tidak akan ragu masuk-keluar warung demi mencicipi keaslian rasa dan emosionalitas yang ada dalam makanan. Semakin expert pula seorang pecinta kuliner, dia tidak menganggap segala yang dihidangkan di resto mahal dengan segala pernak-pernik importnya itu sebagai kuliner yang top. Harga juga tidak menjadi ukuran kuliner "maknyus" tapi, sekali lagi, originalitas asal kuliner dan nilai emosionalitas yang diperoleh dari kenangan, atau nostalgia masa lalu, itulah yang bisa dinikmati dari indigenous culinary, termasuk soto ayam ini.

Soto ayam yang saya nikmati di sebuah gerobak dengan tampilan merakyat, harga Rp. 7.000,- per porsi. Lihat saja tampilannya, bagi saya ini lebih menarik daripada sajian soto ayam bening dengan mangkok berkilau yang disajikan di resto terkenal.

Menikmati kuliner dari ke-indigenous-annya adalah sangat menyengkan, karena melibatkan emosionalitas dan kenangan akan masa lalu kita. Kalau perlu, untuk menikmati coto makassar, misalnya, marilah ke Makassar, carilah gerobak atau warung penjualnya yang benar-benar menyajikan resep asli dengan cara yang merakyat. Karena ini adalah makanan rakyat. Begitu juga untuk menikmati rawon, nasi krawu, silakan datangi asal daerahnya. Di sana akan didapat kepuasan kuliner yang sebenarnya.

Comments

Popular Posts