Nilai Tentang Kesetiaan Dalam Pernikahan


Si ibu :
"Nak, tante sama oom-mu mau bercerai. Bercerai adalah kondisi ketika suami-istri sudah tidak jadi suami-istri lagi. Mereka tinggal terpisah."

"Tapi kalau seperti opa-oma itu bukan bercerai loh... dulu opa dan oma tinggalnya terpisah, karena opa kerjanya keliling seluruh Indonesia, sedangkan oma di Surabaya saja sama anak-anaknya. Seminggu sekali atau kalau liburan opa pulang. Opa tetap suaminya oma walaupun terpisah."

"Tahu gak, kenapa ada suami-istri yang memutuskan untuk bercerai? Karena mereka sudah merasa tidak cocok lagi untuk hidup bersama."

Si anak :
"Kenapa kok bisa ndak cocok?"

Si ibu :
"Ya kalau ketemu mereka tidak bisa bahagia lagi. Bertengkar terus. Sebenarnya mereka tidak saling kenal dengan sifat pasangannya. Kalau kenal dan bisa menerima sebetulnya mereka bisa bahagia."

"Dulu, ketika pacaran, mereka mungkin kurang memakai kesempatan pacaran untuk mengenal sifat calon suami/istrinya. Jadi, kalau kelak kamu pacaran, pakailah waktu pacaran itu untuk kenal sifat-sifat calon istrimu. Kalau tidak sesuai denganmu, lebih baik jangan diteruskan, putus saja, cari yang lain yang lebih sesuai. Karena pernikahan Katolik tidak mengijinkan perceraian."

"Kalau mencari istri lebih baik yang cerdas dan baik hatinya, cantik fisik itu belakangan. Kecantikan fisik mudah hilang, tapi kalau kecerdasan dan kebaikan hati akan sulit hilang dan sangat kamu perlukan supaya anak-anakmu diasuh oleh ibu yang tepat."

Si anak :
"Aaaa.... aku belum mau.... nanti saja aaaa.... "

------------

Dialog pun selesai. Saya sangat prihatin dengan perceraian maupun pernikahan yang tidak dilandasi kesetiaan di dalamnya. Oleh karena itu sejak awal kesetiaan terhadap pernikahan sudah saya ajarkan pada anak saya. Supaya dia memiliki landasan karakter yang baik dalam membina keluarganya.

Dasar karakter ini harus ditanamkan kuat sejak dini, saya yakin anak bisa mengerti, itu sebabnya saya tidak ragu-ragu mengajak anak berdialog seperti ini.

Hempasan pengaruh lingkungan sekitar, baik dari media maupun dari lingkungan langsung (teman, saudara, dll.), yang tak lagi mengindahkan kesetiaan pernikahan itu sangat kuat akhir-akhir ini. Sebagai orang tua tentu saya ingin yang terbaik bagi anak, ingin anak bahagia dan tak salah dalam melangkah maupun membuat keputusan hidupnya. Itu sebabnya komunikasi selalu kami gelar dengan intens. Karena bagi kami, pernikahan adalah satu untuk selamanya.

Dan itu sebabnya pula kami memutuskan jalur home education, supaya segala pengajaran karakter baik bisa didapatnya sejak dini, ketika pengaruh buruk dari lingkungan belum banyak menghempasnya. Dan ketika saatnya tiba, anak sudah tahu tentang kebenaran dan telah memiliki benteng serta pijakan yang kuat untuk menepis segala input nilai yang negatif itu.

Semoga kami sebagai orang tua bisa menjalankan peran ini dengan baik.

Comments

Post a Comment

Popular Posts