Skip to main content

Featured

Menemukan Kembali Mood Menjahit Yang Pernah Hilang

Sudah hampir tiga bulan aku tidak menjahit apapun. Mesin jahit dan mesin obras tergeletak begitu saja penuh debu. Sedangkan meja mesin jahit pun penuh dengan berbagai benda yang tak lagi berguna. Selain itu, kain-kain stock pun berserakan di dalam kantong plastik dan di dalam kontainer besar yang sulit dibuka karena di atas kontainer itu ada kantong-kantong yang berisi baju-bajuku. Benar-benar berantakan! Akhir-akhir ini kondisi kamarku memang kacau, akibat dari tidak memiliki lemari sehingga kain-kain pun tidak terdisplay dengan baik. Ini membuatku sangat malas mencari-cari kain untuk dijahit karena sulit diakses. Rupanya aku tidak cocok menggunakan kontainer dan plastik-plastik untuk menyimpan kain-kain. Lalu kuputuskan untuk membeli dua lemari yang kupakai untuk tempat baju dan stock kain.  Aku membeli satu lemari bergambar jerapah (aku suka jerapah!) yang belum dirakit pada tanggal 1 Mei, lalu segera ku rakit keesokan harinya, setelah dirakit aku merasa lemari ini terlalu kecil, ti

Learn To Be Me - 3 : "Parla Come Magni"

"Parla come magni" -> say it like you eat it, when you're making a big deal out of explaining something, when you are searching for the right words, keep your language as simple and direct as Roman food 
(Liz Gilbert).

Sumber gambar

----------------------------------


Dalam proses memahami diri sendiri, kitalah yang paling bisa. Bukan orang lain, seahli apapun dia. Banyak orang menyatakan pada kita, kamu itu begini - kamu itu begitu. Mungkin ada benarnya, tapi bagaimana pun penilaian diri kitalah yang benar. Kita sendiri yang tahu seberapa besar kemampuan kita dalam menghadapi masalah. 


Paling tidak itulah yang saya yakini. Mungkin pada orang dengan tingkat keyakinan diri rendah akan berkata sebaliknya, bahwa opini orang lain terhadap dirinya itulah yang benar.


Dalam usaha rekonsiliasi dengan diri pribadi ini, banyak pengaruh dari luar yang berusaha membuat diri saya patuh terhadap opininya, opininya tentang diri saya. No, bukan itu yang saya inginkan. Saya ingin benar-benar menyatu dengan diri saya sendiri. Bukan dengan opini orang lain. Bagi saya, opini tersebut akan menyulitkan usaha saya. Menutup telinga dari opini orang lain adalah jalan yang termudah. 


Yang sulit adalah jika saya diminta menjelaskan : kenapa saya perlu melakukan rekonsiliasi? Kenapa tidak menjalani hidup dengan mengalir saja? Mulut saya langsung terbungkam. Bungkam tidak berarti saya mengurungkan niat saya untuk melakukan rekonsiliasi. Tapi saya tak menemukan satu kata pun untuk menjelaskan perasaan saya dengan tepat, paling tidak "tepat" menurut ukuran saya.


Saya teringat quote diatas yang berbunyi "Parla come magni". Jelaskan saja dengan singkat dan langsung begitu saja. Menurut saya ini adalah cara terbaik. Tapi TIDAK, saya belum bisa.

Comments

Popular Posts