Skip to main content

Featured

Menemukan Kembali Mood Menjahit Yang Pernah Hilang

Sudah hampir tiga bulan aku tidak menjahit apapun. Mesin jahit dan mesin obras tergeletak begitu saja penuh debu. Sedangkan meja mesin jahit pun penuh dengan berbagai benda yang tak lagi berguna. Selain itu, kain-kain stock pun berserakan di dalam kantong plastik dan di dalam kontainer besar yang sulit dibuka karena di atas kontainer itu ada kantong-kantong yang berisi baju-bajuku. Benar-benar berantakan! Akhir-akhir ini kondisi kamarku memang kacau, akibat dari tidak memiliki lemari sehingga kain-kain pun tidak terdisplay dengan baik. Ini membuatku sangat malas mencari-cari kain untuk dijahit karena sulit diakses. Rupanya aku tidak cocok menggunakan kontainer dan plastik-plastik untuk menyimpan kain-kain. Lalu kuputuskan untuk membeli dua lemari yang kupakai untuk tempat baju dan stock kain.  Aku membeli satu lemari bergambar jerapah (aku suka jerapah!) yang belum dirakit pada tanggal 1 Mei, lalu segera ku rakit keesokan harinya, setelah dirakit aku merasa lemari ini terlalu kecil, ti

Nyanyian Jiwa (Book Review)

Buku puisi. Wow... tak terpikir bahwa saya akan membuka sebuah buku puisi! Sejak dulu saya tak suka puisi. Tiap kali saya mendengar atau membaca kata puisi, yang muncul pertama kali dalam pikiran saya adalah : barisan kata-kata bermakna kesedihan. Saya tak suka segala tulisan yang mengandung makna kesedihan. Bagi saya, sebuah bacaan itu harus menghibur dan mengisi otak saya dengan pengetahuan, bukan kesedihan. OK, saya kedengaran egois ya... no problem, semua orang punya preferensinya masing-masing, dan inilah preferensi saya.

Suatu ketika, saya membuka facebook, saya mendapat kabar bahwa seorang teman saya membuat buku, BUKU PUISI! Why puisi?? Itulah yang ada dalam benak saya. Tapi pada waktu itu ada sebuah pemikiran lain, saya mau buka pikiran saya untuk menikmati tulisan teman saya ini, saya mau sedikit memahami pemikirannya melalui tulisannya.

Ternyata, setelah membaca buku setebal 107 halaman ini, saya mendapati isinya persis dengan sosok penulisnya! Seseorang yang akrab, kritis, dan humoris! Di bawah ini adalah salah satu puisinya yang menurut saya mengandung humor :


Well, meskipun begitu, ada bagian-bagian yang membuat saya sangat terharu. Beberapa puisi yang benar-benar menunjukkan posisi seorang Alfiyah sebagai istri, kesayangan almarhum suaminya, dan posisinya sebagai anak, juga sebagai ibu dari anak-anaknya. Benar-benar menyentuh dan bisa menjadi nyata melalui tulisan yang berkata jujur, tidak idealis.

Buku puisi ini tidak terkesan berat, seperti buku puisi yang dulu-dulu pernah saya baca, hingga membuat saya menolak baca puisi. Tulisannya sangat ringan, mudah dicerna oleh quick reader seperti saya, namun tetap berada dalam koridor puisi yang menarik. Semoga buku-buku Alfiyah selanjutnya tetap mencerminkan pribadi penulis seperti saat ini, tidak terlalu idealis, tetap jujur dan ringan, sehingga seorang ibu rumah tangga seperti saya tetap bisa menikmati karya puisi yang indah. 

Comments

Popular Posts