Skip to main content

Featured

Bangun Pagi Dengan Semangat Menyala? Bisa!

Selamat pagi... Pagi ini aku terbangun lebih pagi daripada biasanya, pukul 03:30. Ketika keluar kamar ternyata anakku juga keluar kamar dengan membawa baju mandi! Padahal anakku tidak sekolah formal, sehingga dia tidak diharuskan bangun pagi dengan diguncang-guncang. Sebetulnya dia sudah terbiasa bangun pagi ini sejak masih kecil. Bangun tidur, langsung mandi dilanjutkan dengan membuat teh hangat sendiri. Iya, dia memang mandiri sejak masih kecil sekitar usia 7 tahun. Kebiasaan bangun pagi bagi keluarga kami adalah hal yang sangat baik, karena sistem detoks tubuh terjadi pada pukul 05:00, sehingga pada jam ini sebaiknya sampah tubuh dikeluarkan.  Bagaimana kami bisa membuat anak memiliki dorongan bangun pagi ini? Games ! Dan bagaimana saya memiliki dorongan bangun pagi juga? Pekerjaan! Games dan pekerjaan bagi banyak orang dipandang sebagai sesuatu yang berbeda. Orang memandang bahwa games hanyalah kesenangan yang memabukkan dan pekerjaan adalah suatu kewajiban yang memang harus dila

Membeli Bukan Karena Butuh (Banget)

Siang tadi saya melakukan hal diluar kebiasaan saya: saya membeli barang karena menghargai penjualnya!

Ini barang yang saya beli : sebuah lumpang!



Sederhana ya? Namun jika dilihat kondisi penjualnya... wow sangat complicated. Dia membawa satu lumpang, sekitar 5 cobek beserta uleg-uleg dan alunya, semuanya dari batu!! Bisakah kau bayangkan betapa berat bebannya?

Tapi proses belinya pun complicated. Saya ini termasuk orang yang gak mau tahu harga barang-barang batu itu. Lha wong sebenarnya saya masih punya 2 cobek batu yang utuh, milik ibu yang diberikan pada saya. Namun memang kadang kalau saya pikir, menumbuk bumbu masakan itu jauh lebih tidak melelahkan daripada menguleg. Sehingga saya pun terdorong untuk membeli lumpang ini.

Perkiraan saya harganya sekitar Rp. 30.000, tapi setelah si bapak menurunkan lumpangnya, dia mengatakan bahwa harganya Rp. 90.000!! WOW... saya katakan terus terang bahwa saya tidak punya uang sebanyak itu.

Lalu si bapak berkata: "Bisa ditawar kok.. tawar saja." Waduh saya jadi bingung mau nawar berapa... karena sejujurnya saya hanya punya duit Rp. 30.000.

"Wes saya kasi pas Rp. 75.000!" kata si bapak.
"Wah maaf pak saya hanya punya Rp. 30.000."
"Yo wes Rp. 60.000 gak popo wes!"
"Lho sampeyan gak rugi ta?"
"Gak... gak popo, gawe pelaris. Insya Allah mari ngene onok sing tuku."

Waduh... gimana niy... dia sudah menurunkan harga seanjlok itu, padahal saya gak nawar! Saya jadi lebih gak tega lagi untuk tidak jadi membeli. Dengan terpaksa saya meminjam uang dari kakak saya.

Tapi saya agak lega juga setelah transaksi berakhir. Sebagian besar rasa leganya adalah karena saya bisa membayangkan beban panggulan si bapak yang jauh berkurang, jadi lebih ringan!

Jika anda berpikir atau merasa hebat karena telah berhasil menawar barang (terutama kerajinan rakyat) dengan harga serendah mungkin, please pikirkan tentang kesusahan para pengrajin ketika membuatnya, dan beban tagihan yang harus mereka bayar. Jangan hanya berpikir tentang modal uang yang mereka keluarkan untuk membuat produk tersebut. Para pengrajin itu membuat barang-barang tersebut dan menjualnya dengan harapan mereka bisa membayar biaya hidup mereka.

Mari kita peduli, tidak egois!

Jadi, mari menumbuk bumbu soto ayam!

Comments

Popular Posts