Memandang Orang Yang Sudah Tua Dengan Kacamata Pemahaman Parenting

Dalam usia saat ini, saya melihat banyak orang tua (=orang berusia lanjut) mengalami kesulitan dalam emosionalitasnya. Beberapa ada yang masih berusaha mengontrol anaknya sekuat tenaga untuk mengikuti keinginannya. Beberapa ada yang malah lebih rajin bertengkar daripada pasangan muda. Beberapa lagi ada yang suka merendahkan pasangannya di muka umum. Beberapa malah ada yang ganjen melebihi masa mudanya.

Walaupun tidak sedikit juga saya lihat orang tua yang bisa menikmati masa tuanya dengan enjoy, dengan bijak, dan tenang, tapi kenyataan di atas menimbulkan pertanyaan juga bagi saya: bagaimana supaya masa tua nanti saya tidak menjadi orang yang seperti itu, karena sifat-sifat di atas itu sangat berpotensi membuat anak-cucu jadi jengkel dan marah. Masa tua inginnya saya jalani dengan tenang, ayem bersama suami yang juga menua, dan anak-cucu yang menyenangkan. Dan, hal ini harus dipupuk mulai sekarang, seperti halnya cita-cita profesi kita dulu.

Pemupukan itu saya mulai dengan breakdown sikap-sikap yang menjengkelkan, tidak sesuai dengan idealisme, dan bikin gerah. Dari pengenalan sikap-sikap ini, mulailah dicari penyebabnya. Dengan mengetahui penyebabnya, saya bisa tahu cara mengatasinya supaya tak saya alami ketika saya tua nanti.

Sikap Orang Tua Adalah Hasil Dari Interaksi Semasa Muda
Ya, mau dikata apalagi... sikap kita adalah hasil dari interaksi di masa lalu. Kematangan dan kedewasaan kita adalah hasil dari pola asuh yang kita dapatkan ketika anak-anak. Begitu juga sikap dan kematangan kita ketika tua tidak akan sama dengan sikap dan kematangan kita diusia dewasa, tapi akan berubah sesuai pola interaksi dan pengalaman yang kita dapat selama masa dewasa.

Misalnya saja, ketika dewasa seseorang menikah dan mendapati pemenuhan ekonomi yang sangat berlebih, hingga dia merasa dimanjakan dan sama sekali tidak kesulitan untuk mendapatkan apapun yang diinginkan. Tapi, hari berganti hari, tibalah masa pensiun, dengan kondisi ekonomi yang lebih memprihatinkan. Karena semasa muda dia terlena tanpa melakukan edukasi diri dan persiapan jika roda kehidupan bergerak ke arah yang berlawanan, maka ketika tua, dia akan tidak siap menerima kejatuhan ekonominya, dan mengalami depresi pada masa tuanya.

Dengan demikian, kita perlu memupuk segala kebaikan dengan selalu melakukannya ketika masih muda, juga, menjalin hubungan yang harmonis dengan anak, bukan sekedar mesin pencetak uang dan kebutuhan material anak. Sehingga ketika kita tua nanti anak sudah menjadi sahabat kita dan akrab dengan kita, dengan begitu, interaksi yang baik antara kita yang menua dan anak yang mendewasa tetaplah interaksi yang saling membangun.

Orang Tua Bersikap Sesuai Keyakinan Mereka
Tidak hanya anak-anak yang akan menancapkan bisikan-bisikan maut tentang karakter mereka dalam karakter mereka yang sebenarnya. Penelitian oleh Becca Levy, membuktikan hal ini. Pada orang tua yang diberikan kata-kata yang negatif, mereka akan menjadi lemah, merasa dirinya lebih, tidak berguna, dan serangkaian pandangan-pandangan negatif lainnya. Berbeda dengan yang dipaparkan pada kata-kata yang positif, mereka akan merasa lebih sehat, ceria, dan optimis.

Mengatakan suatu cap pada orang tua, misalnya cap "kayak anak kecil lagi", atau "pikun", atau "tidak berguna", "bodoh", "mengalami kemunduran", ini tidak akan memperbaiki kualitas kepribadiannya, malah akan memperburuk kondisi.

Jadi, sebelum kita tua, marilah kita tidak memberi cap negatif pada anak atau orang lain, supaya anak kita tidak terdidik untuk memberi cap negatif pada orang lain juga, termasuk kita nantinya.

Depresi Pada Masa Tua
Depresi yang dialami orang yang sudah tua biasanya adalah karena perasaan tidak dibutuhkan. Anak sudah sibuk dengan urusan masing-masing, bahkan seringkali menganggap kehadiran orang tua yang sudah tua itu hanya mengganggu urusannya. Cucu juga sudah tidak menginginkannya lagi karena adanya gap sikap. Inilah gambaran sumber depresi tersebut.

Menurut analisa saya, anak yang sudah dewasa bersikap seolah tidak membutuh orang tuanya itu adalah karena pada masa kecilnya dia tidak mengalami keakraban dengan orang tuanya. Orang tua hanya bertindak sebagai sosok pribadi yang memenuhi kebutuhan materi, bukan sosok pribadi yang dibutuhkan anak untuk mendampingi hidupnya. Jadi ketika anak masuk usia dewasa, dia pun melakukan tindakan yang sama terhadap orang tuanya : menjadi pemenuh kebutuhan materi saja. Anak sudah terdidik bahwa hubungan orang tua - anak adalah hubungan pemenuhan materi.

Sangat disayangkan jika ini terjadi. Saya masih ingat kedekatan hubungan saya dengan ibu ketika saya masih kecil. Rumah kami kecil, apapun kegiatan yang kami lakukan ya kami lakukan di ruangan yang sama. Sekat rumah hanya ada antara dapur dengan kamar mandi, dan dengan ruang utama, tidak ada kamar tidur yang tersekat. Menyedihkan? Nggak juga... kalau saya rasakan kehidupan saat ini kok rasanya kemiskinan itu berefek positif, saya jadi akrab dengan keluarga. Dimasa tua ibu saya, saya pun bisa jadi teman bicara tanpa kesenjangan, tapi dengan keakraban.

Dengan demikian, memupuk keakraban dengan anak, mendampinginya dalam aktivitas sehari-hari, akan berdampak positif pada 2 pribadi, yaitu orang tua dan anak.

Pikun
Kalau yang ini umumnya terjadi karena penurunan tingkat aktivitas yang sangat drastis. Dari seorang pekerja kantoran dengan irama kerja yang keras, setelah pensiun menjadi penonton TV dengan jam terbang yang tinggi... waduh! Jangan sampai terjadi yang demikian. Memelihara kesehatan otak dengan aktivitas otak dan aktivitas fisik akan sangat menguntungkan.

Saya mungkin memilih menjadi penulis dan perawat kucing aja kalau sudah tua.... hahahah... lumayanlah.. tetap bergerak bergurau dengan kucing dan otak tetap dipakai untuk analisa banyak hal atau berkreasi melalui dongeng. Berguna untuk banyak peliharaan, berguna juga untuk dunia anak-anak, paling nggak ada cucu yang mau mendengarkan dongeng neneknya.... ^_^

YES! Saya mau menua dengan aktif dan bahagia bersama suami dan anak-cucu ^_^


Comments

Popular Posts