Perkembangan Anak Remaja

Anak saya beranjak remaja, benar itu. Oleh karena itu saya mulai belajar lebih intensif tentang perkembangan kepribadian di fase ini. Ada banyak sisi dalam perkembangan masa remaja. Tapi ada dua hal yang menarik perhatian saya, yaitu tentang perkembangan prefrontal cortex (PFC), ini tak lain adalah perkembangan otak depan, dan satunya lagi adalah yang biasa disingkat dalam quote "mendampingi, bukan membatasi".

Prefrontal Cortex
Secara alamiah, masa remaja ditandai dengan perkembangan otak depan. Otak depan ini berfungsi dalam membuat pertimbangan-pertimbangan dan keputusan berkaitan dengan resiko yang bisa dihadapi.

Walaupun secara alamiah bisa bertumbuh dengan sendirinya, namun orang tua yang peduli berkewajiban membantu perkembangannya. Bagaimana caranya?

Yaitu dengan sesering mungkin berkomunikasi dengan anak tentang akibat atau resiko dari perbuatannya. Misalnya, jika anak ngebut, akibatnya adalah dia bisa celaka, kehilangan kendaraannya, bahkan dia akan kena hukuman tidak mendapat uang saku selama beberapa bulan, untuk mengganti kerusakan yang dia dapatkan.

Akhir-akhir ini saya membaca berita tentang pembunuhan yang dilakukan remaja, penganiayaan yang dilakukan remaja, tawuran mahasiswa hingga berakibat gedung sekolah terbakar, itu semua membuat saya miris, kenapa banyak terjadi pada masa kini?

Kalau dilihat ke belakang, ke masa sekitar 4-5 tahun lalu, orang tua banyak yang mengembangkan pola asuh permisif, yaitu pola asuh yang cenderung mengijinkan anak melakukan apapun. Ada beberapa orang tua yang berkilah bahwa dia menerapkan pola asuh itu agar anak bisa tahu sendiri resiko yang dihadapi. Mungkin karena orang tua tidak mau sulit-sulit memberi gambaran tentang resiko suatu perbuatan buruk.

Jika memang ini alasannya, orang tua jelas salah. Orang tua sebagai orang yang sudah merasakan kehidupan lebih dahulu daripada anak, WAJIB memberi gambaran tentang resiko, sebab-akibat suatu perilaku, hingga anak bisa membuat pertimbangan yang baik, apakah suatu perilaku dibenarkan atau tidak.

Orang tua dengan pola asuh yang permisif ini akan menghasilkan anak yang terdidik tanpa bisa mengendalikan diri dengan baik. Impulsif. Itulah sifat yang ada pada anak remaja yang tampak tak mampu mempertimbangkan baik-buruk akibat dari perbuatannya.


"Mendampingi, bukan Membatasi"
Poin kedua ini, intinya adalah pola asuh otoriter. Orang tua yang serba membatasi. Hasilnya adalah anak yang takut-takut. Mau berbuat begini takut, berbuat begitu takut. Biasanya ketakutan ini hanya ditampakkan ketika ada di hadapan orang tua, namun kalau tidak ada, ya bisa dibayangkan sendiri bagaimana perilakunya. Tentu saja anak akan merasa bebas tanpa penghalang. Apalagi anak remaja, mereka sudah memiliki kekuatan secara fisik, tinggi badan sudah sama atau bahkan melampaui orang tua, ini membuat mereka merasa sudah waktunya memberontak dari belenggu.

Di sini perlunya orang tua menempatkan diri sebagai pendamping, sebagai sosok yang nyaman jadi tumpuan komunikasi anak. Anak bebas menceritakan isi hatinya pada orang tua.

Mendampingi artinya kita berada sejajar, berdampingan. Bukan atas dan bawah. Di sini orang tua menempatkan diri sejajar, bukan sebagai pemberi perintah, atau pun penerima perintah.


Berdasarkan perenungan-perenungan tersebut, saya berusaha selalu mengingatkan diri untuk menjadi pendamping hidup yang terbaik bagi anak, menyediakan diri ketika anak butuh pertimbangan. Membantunya mengembangkan otak secara maksimal, hingga dia menjadi manusia dewasa yang bahagia.

Oiya, satu hal lagi : nutrisi. Siapkan nutrisi yang baik. Seperti misalnya minyak ikan, itu baik untuk perkembangan otaknya, supaya anak tidak mudah depresi dan mampu mengolah informasi yang masuk ke otaknya dengan efektif.


Comments

Popular Posts