Skip to main content

Featured

Bangun Pagi Dengan Semangat Menyala? Bisa!

Selamat pagi... Pagi ini aku terbangun lebih pagi daripada biasanya, pukul 03:30. Ketika keluar kamar ternyata anakku juga keluar kamar dengan membawa baju mandi! Padahal anakku tidak sekolah formal, sehingga dia tidak diharuskan bangun pagi dengan diguncang-guncang. Sebetulnya dia sudah terbiasa bangun pagi ini sejak masih kecil. Bangun tidur, langsung mandi dilanjutkan dengan membuat teh hangat sendiri. Iya, dia memang mandiri sejak masih kecil sekitar usia 7 tahun. Kebiasaan bangun pagi bagi keluarga kami adalah hal yang sangat baik, karena sistem detoks tubuh terjadi pada pukul 05:00, sehingga pada jam ini sebaiknya sampah tubuh dikeluarkan.  Bagaimana kami bisa membuat anak memiliki dorongan bangun pagi ini? Games ! Dan bagaimana saya memiliki dorongan bangun pagi juga? Pekerjaan! Games dan pekerjaan bagi banyak orang dipandang sebagai sesuatu yang berbeda. Orang memandang bahwa games hanyalah kesenangan yang memabukkan dan pekerjaan adalah suatu kewajiban yang memang harus dila

Menyerah Dalam Kepatuhan


Kata-kata di atas diucapkan oleh Maria, bunda Yesus. Ketika itu Maria belum menikah, dan tiba-tiba datanglah malaikat mengabarkan bahwa dia akan hamil. Kalau dipikir dengan akal manusiawi, tentu ini hal yang sangat memalukan: hamil tanpa pernikahan! Perempuan baik-baik seperti Maria tentu akan mengalami dilema jika dihadapkan pada kondisi ini. Apalagi pada jaman dahulu, ketika norma adat dipegang ketat.

Pada jaman saya masih remaja, sekitar tahun 80 - 90-an hamil sebelum menikah adalah tabu. Jika ada yang mengalaminya pasti akan menanggung malu dan sulit diterima oleh masyarakat. Banyak perempuan yang akhirnya terjerumus dalam aborsi. Maria pun pasti mengalaminya. Dia menghadapi dilema antara menerima kehendak Allah atau menolak. Namun, penyerahan diri itu yang diutamakan.

Kita pasti sering juga menghadapi dilema yang sama: antara mengikuti kehendak Allah atau kehendak sendiri. Bagaimana cara mengetahui kehendak Allah? Kalau Maria sih gampang .. malaikat sendiri yang datang untuk mengatakan padanya. Lha kalau malaikat tidak datang bagaimana? Mudahkah mengetahui kehendak Allah? Itu kembali pada kepekaan dan penerimaan kita masing-masing. Makin terlatih makin mudah mengetahui kehendak Allah.

Masalah baru timbul. Setelah mengetahui kehendak Allah, apakah kita mau dengan begitu saja mengikutiNya? Apakah gak lebih mudah untuk ngikuti kehendak kita saja? Ya tentu lebih mudah ngikuti kehendak kita lah... tapi itu tidak baik.

Percayalah, dengan ngikuti kehendak Allah, kita akan dibawa ke tingkat kemuliaan yang lebih tinggi, dengan tugas-tugas yang lebih menantang dan tentunya lebih berguna. Sekarang yang terpenting adalah belajar mendengarkan kehendak Allah, dan patuh mengikutiNya, menyingkirkan keinginan pribadi kita.

Siapkah kita belajar untuk patuh?

Comments

Popular Posts