Natal Bukan Tentang Memberi Hadiah Pada Orang Kaya

"Kamu minta kado apa untuk Natal?"
Inilah pertanyaan yang sering saya dengar pada saat-saat menjelang Natal. Saya juga sempat menanyakan hal yang sama pada beberapa kali Natal, terutama ketika anak saya baru bisa komunikasi sejak bayi. Senang kalau bisa menanyakan dan mengabulkannya. Demikian juga dengan para keponakan, juga untuk senang-senangnya kami sendiri, yaitu makan-makan, bepergian, dsb. Kami kehilangan makna Natal itu.

Namun tahun-tahun terakhir ini saya kembali merenung, pada waktu Natal, apa yang diperingati? Kelahiran Yesus Kristus. Lalu, untuk siapa Yesus dilahirkan? Untuk manusia yang jauh dari Allah, mendekatkan mereka pada Allah kembali. Kado yang tepat untuk diberikan pada waktu ini adalah segala hal yang bisa mendekatkan orang-orang terkasih padaNya. Bukan benda-benda yang mewakili sifat hedonisme dan konsumtif. Dan siapa yang tepat untuk menerimanya? Semua orang yang jauh dari Allah.

Saya mulai mengubah pandangan dalam mencari kado. Yang jadi patokan bukan lagi: "Apa yang dia sukai?" Tapi: "Apa yang bisa mendekatkannya pada Allah sang Alpha Omega?" Dengan pandangan ini pun, semua orang bisa memberikan kado Natal bagi orang-orang yang dikasihi, tidak melulu monopoli orang berduit. Karena kado Natal tak lagi terkait dengan benda-benda konsumtif-hedonisme.

Pada Lukas 2:8-14, para malaikat secara khusus menampakkan diri pada para gembala, menunjukkan dan mengirim berita tentang keberadaan Yesus. Itulah kado Natal terindah bagi para gembala, yaitu petunjuk bahwa Sang Penyelamat telah ada.

Siapkah kita memberi kado Natal paling bermakna?

Comments

Popular Posts