Skip to main content

Featured

Menemukan Kembali Mood Menjahit Yang Pernah Hilang

Sudah hampir tiga bulan aku tidak menjahit apapun. Mesin jahit dan mesin obras tergeletak begitu saja penuh debu. Sedangkan meja mesin jahit pun penuh dengan berbagai benda yang tak lagi berguna. Selain itu, kain-kain stock pun berserakan di dalam kantong plastik dan di dalam kontainer besar yang sulit dibuka karena di atas kontainer itu ada kantong-kantong yang berisi baju-bajuku. Benar-benar berantakan! Akhir-akhir ini kondisi kamarku memang kacau, akibat dari tidak memiliki lemari sehingga kain-kain pun tidak terdisplay dengan baik. Ini membuatku sangat malas mencari-cari kain untuk dijahit karena sulit diakses. Rupanya aku tidak cocok menggunakan kontainer dan plastik-plastik untuk menyimpan kain-kain. Lalu kuputuskan untuk membeli dua lemari yang kupakai untuk tempat baju dan stock kain.  Aku membeli satu lemari bergambar jerapah (aku suka jerapah!) yang belum dirakit pada tanggal 1 Mei, lalu segera ku rakit keesokan harinya, setelah dirakit aku merasa lemari ini terlalu kecil, ti

Natal Bukan Tentang Memberi Hadiah Pada Orang Kaya

"Kamu minta kado apa untuk Natal?"
Inilah pertanyaan yang sering saya dengar pada saat-saat menjelang Natal. Saya juga sempat menanyakan hal yang sama pada beberapa kali Natal, terutama ketika anak saya baru bisa komunikasi sejak bayi. Senang kalau bisa menanyakan dan mengabulkannya. Demikian juga dengan para keponakan, juga untuk senang-senangnya kami sendiri, yaitu makan-makan, bepergian, dsb. Kami kehilangan makna Natal itu.

Namun tahun-tahun terakhir ini saya kembali merenung, pada waktu Natal, apa yang diperingati? Kelahiran Yesus Kristus. Lalu, untuk siapa Yesus dilahirkan? Untuk manusia yang jauh dari Allah, mendekatkan mereka pada Allah kembali. Kado yang tepat untuk diberikan pada waktu ini adalah segala hal yang bisa mendekatkan orang-orang terkasih padaNya. Bukan benda-benda yang mewakili sifat hedonisme dan konsumtif. Dan siapa yang tepat untuk menerimanya? Semua orang yang jauh dari Allah.

Saya mulai mengubah pandangan dalam mencari kado. Yang jadi patokan bukan lagi: "Apa yang dia sukai?" Tapi: "Apa yang bisa mendekatkannya pada Allah sang Alpha Omega?" Dengan pandangan ini pun, semua orang bisa memberikan kado Natal bagi orang-orang yang dikasihi, tidak melulu monopoli orang berduit. Karena kado Natal tak lagi terkait dengan benda-benda konsumtif-hedonisme.

Pada Lukas 2:8-14, para malaikat secara khusus menampakkan diri pada para gembala, menunjukkan dan mengirim berita tentang keberadaan Yesus. Itulah kado Natal terindah bagi para gembala, yaitu petunjuk bahwa Sang Penyelamat telah ada.

Siapkah kita memberi kado Natal paling bermakna?

Comments

Popular Posts