Skip to main content

Featured

Bangun Pagi Dengan Semangat Menyala? Bisa!

Selamat pagi... Pagi ini aku terbangun lebih pagi daripada biasanya, pukul 03:30. Ketika keluar kamar ternyata anakku juga keluar kamar dengan membawa baju mandi! Padahal anakku tidak sekolah formal, sehingga dia tidak diharuskan bangun pagi dengan diguncang-guncang. Sebetulnya dia sudah terbiasa bangun pagi ini sejak masih kecil. Bangun tidur, langsung mandi dilanjutkan dengan membuat teh hangat sendiri. Iya, dia memang mandiri sejak masih kecil sekitar usia 7 tahun. Kebiasaan bangun pagi bagi keluarga kami adalah hal yang sangat baik, karena sistem detoks tubuh terjadi pada pukul 05:00, sehingga pada jam ini sebaiknya sampah tubuh dikeluarkan.  Bagaimana kami bisa membuat anak memiliki dorongan bangun pagi ini? Games ! Dan bagaimana saya memiliki dorongan bangun pagi juga? Pekerjaan! Games dan pekerjaan bagi banyak orang dipandang sebagai sesuatu yang berbeda. Orang memandang bahwa games hanyalah kesenangan yang memabukkan dan pekerjaan adalah suatu kewajiban yang memang harus dila

Sampaikan Kabar Baik, Sampaikan Penguatan, Sampaikan Ketulusan


"Mulutmu harimaumu"

Itulah istilah yang sering kita dengar jika ingin menegur orang yang suka bicara buruk. Beberapa tahun ini, orang tak hanya berkata buruk melalui mulutnya, tapi juga melalui tulisannya. Terutama tulisan di berbagai media sosial. Merebaknya media sosial membuat orang semakin merasa bebas berekspresi, termasuk ekspresi tulisan. Sayangnya kebebasan ini jarang diiringi oleh tanggung jawab dan kasih.

Alkitab mengajarkan kita untuk menegur. Tapi, menegur dengan kasih. Bukan dengan maksud lain atau dengan diiringi rasa marah. Menegur dengan kasih adalah menegur dengan lembut dan dengan maksud perbaikan. Tak akan ada perbaikan jika diiringi dengan amarah dan pertengkaran.

Tak hanya soal teguran, perkataan buruk juga hadir dalam bentuk fitnah, ketidakpedulian, egosentris yang disembunyikan dalam wujud peduli berlebihan, dan keinginan untuk melemahkan semangat.

Dalam peristiwa Natal, malaikat hadir diantara para malaikat untuk menyampaikan kabar baik. Dengan perkataannya malaikat memberi semangat, menguatkan, dan menyampaikan berita yang menyenangkan. Jika berimajinasi, kita bisa bayangkan wajah para gembala yang awalnya kaget menjadi penuh kegembiraan dan semangat.

Bagaimana jika kita menjadi "malaikat" bagi sesama kita? Tak perlu memiliki fisik yg cantik. Cukuplah dengan kepribadian yang selalu ingin membantu, menyemangati, dan mengasihi.

Belajarlah mulai sekarang, dimulai dari membiasakan diri berkata yang lembut, menulis yang menyemangati. Dan iringi dengan hati yang menyampaikannya dengan penuh ketulusan. Membiasakan diri seperti ini akan membawa banyak pengaruh positif bagi perkembangan diri dan kebahagiaan sekitar.

Mampukah diri kita berubah ke arah yang lebih baik? Pasti bisa. Manusia punya instink menjadi pribadi yang lebih baik. 

Comments

Popular Posts