Sikil Traveller, Travelling Ke Pacet



Pemandangan dari vila yang saya tempati, sangat hijau!

Pacet adalah sebuah desa di kaki gunung Arjuna, Jawa Timur. Dari rumah saya di Sidoarjo, Pacet cukup ditempuh dalam waktu 1 jam saja, kalau tidak ada macet. Kalau dari Bandara Juanda, waktu tempuhnya kurang lebih 2 jam, karena pasti melewati area macet. Kalau mau tidak macet ya lewat tol Juanda lalu tol Mojokerto, kurang lebih waktu tempuhnya 1.5 jam.

Dengan waktu tempuh yang singkat ini Pacet menawarkan alternatif area "cuci mata" yang menyenangkan, ijo royo-royo! Selain itu udaranya yang cenderung sejuk dan kadang bahkan dingin, membuat tubuh yang terbiasa dengan lingkungan kota jadi lebih segar.
Gunung Arjuno di latar belakang


Itu tentang alamnya ya, kalau area wisata yang dikelola secara sengaja, Pacet menawarkan pemandian air panas, dan ada Pacet Mini Park. Tapi saya pribadi tak berminat mengunjungi kawasan tersebut. Pertama, karena saya tidak begitu suka berendam beramai-ramai dengan banyak orang, kedua, karena ya isi dalam park-nya begitu-begitu saja, kurang greget.

So, here I am di tengah-tengah area vila! Pacet daerah atas, mendekati gunung Arjuna, adalah area vila, rumah penduduk sangat jarang, tak heran jika tanah di daerah ini harganya mahal, seperti daerah perkotaan. Saya menginap di salah satu vila daerah sini, yang belakangnya adalah sungai. Namun sayang sekali, air sungai yang jernih itu berhiaskan sampah di kanan-kirinya.

Suasana desa yang asri


Jadi apa dong yang bisa dinikmati? Udara bersih dan sejuk, hijaunya pepohonan, yang suka tracking bisa main daki-dakian lereng-lerengnya, foto-foto tema nature, yah begitulah... hehehe... di Pacet juga banyak dijual sayur pakis, sayur ini sangat menyehatkan, dan lezat jika dimasak bobor atau lodeh... hhhmmmm... jadi kepingin!

Jika ingin wisata kuliner bisa mengunjungi pasar Pacet, ada berbagai kuliner yang bisa menghibur perut lapar karena kedinginan. Salah satunya rawon. Rawon yang saya coba ini wangi serehnya tajam, enak, rempah-rempahnya sangat berasa. Dilengkapi dengan tempe goreng. Hhhmmmm.... tapi sungguh lama boooo pelayanannya! Kalau di warung-warung dekat rumah saya tuh ya, menghidangkan rawon itu cepet banget, kalah itu semua resto fastfood! Ambil piring, kasi nasi, kasi rawonnya, kasi sambel dan tempe, sudah... siap hidang! Lha yang ini nungguin sampai 10 menitan itu rawon gak keluar-keluar. Lalu suami saya membisiki: "Di kota dan di desa bedho... kalau di desa, kamu datang ke warung, makan di warung, dianggap punya waktu luang yang banyak untuk cangkruk. Sedangkan orang yang beli dibungkus itu dianggap buru-buru, jadinya diduluin." Iya bener loh... yang beli minta dibungkus itu diduluin daripada saya... ooooh kini kutahu! Ya sudahlah, tak ada pilihan lain selain bersabar.

Rawon kaya rempah


Kalau menginap di vila, saya sarankan supaya membawa makanan sendiri, terutama di musim hujan, karena dengan intensitas hujan yang tinggi, seringkali susah mencari makanan. Memang ada warung-warung yang buka 24 jam, tapi kalau di malam hari, plus hujan dengan dingin yang sangat menggigit, kayaknya lebih enak jika mendekam di kamar vila saja, sambil makan yang hangat-hangat... yummy... hangat, lezat, kenyaaang... ngantuk! Besok pagi subuh mulai jalan menyusuri jalanan Pacet yang naik-turun dengan terjalnya, olahraga menguatkan kaki.

Comments

Popular Posts