Skip to main content

Featured

Menemukan Kembali Mood Menjahit Yang Pernah Hilang

Sudah hampir tiga bulan aku tidak menjahit apapun. Mesin jahit dan mesin obras tergeletak begitu saja penuh debu. Sedangkan meja mesin jahit pun penuh dengan berbagai benda yang tak lagi berguna. Selain itu, kain-kain stock pun berserakan di dalam kantong plastik dan di dalam kontainer besar yang sulit dibuka karena di atas kontainer itu ada kantong-kantong yang berisi baju-bajuku. Benar-benar berantakan! Akhir-akhir ini kondisi kamarku memang kacau, akibat dari tidak memiliki lemari sehingga kain-kain pun tidak terdisplay dengan baik. Ini membuatku sangat malas mencari-cari kain untuk dijahit karena sulit diakses. Rupanya aku tidak cocok menggunakan kontainer dan plastik-plastik untuk menyimpan kain-kain. Lalu kuputuskan untuk membeli dua lemari yang kupakai untuk tempat baju dan stock kain.  Aku membeli satu lemari bergambar jerapah (aku suka jerapah!) yang belum dirakit pada tanggal 1 Mei, lalu segera ku rakit keesokan harinya, setelah dirakit aku merasa lemari ini terlalu kecil, ti

Tanggung Jawab Dan Komitmen Mendidik


Tetiba mendapatkan amanah! Tidak tanggung-tanggung: amanah membesarkan seorang anak. Itulah Yusuf, ayah duniawi bagi Yesus.

Jika suatu pernikahan telah direncanakan, lalu merencanakan pula memiliki anak, tentu tanggung jawab yang dipikul juga sudah direncanakan. Tapi tidak dengan Yusuf, dia memang sudah bertunangan dengan Maria, namun belum menikahinya. Dia secara patuh mengiyakan dan menyanggupi tanggung jawab mendidik dan membiayai hidup seorang anak yang bukan anak kandungnya. Bahkan lebih dari itu, dia mendidiknya dengan baik.

Kalau kita mendapat suatu tanggung jawab untuk mengadakan proyek besar dengan jangka waktu lama, apa yang kita perhitungkan dulu? Kesanggupan keuangan dan waktu kita, juga keuntungan yang kita dapat.

Itu kalau proyek yang pastinya ada profit. namun, bagaimana kalau itu adalah proyek non profit yang akan menguras tenaga dan emosi sepanjang hari? Ya itulah yang terjadi dalam mendidik dan mendampingi seorang anak. Ini proyek seumur hidup!

Tapi Yusuf menyanggupinya! ada kepatuhan dan komitmen untuk bertanggung jawab. kedua sifat ini sudah kehilangan penganut akhir-akhir ini dimasyarakat kita. Begitu mudahnya orang menghindari tanggung jawabnya. Begitu mudahnya orang kehilangan komitmen dalam mendidik anak. Padahal itu anak kandungnya sendiri.

Dengan kondisi ini, generasi lanjutan juga yang akan jadi korbannya. Padahal, ketika kita mendidik anak, kita sedang mempersiapkan sebuah generasi penjaga nilai-nilai moral. Dan ketika kita menghindarinya, maka yang terancam adalah moralitas generasi anak-anak kita. Apakah itu punya dampak langsung dalam kehidupan kita? Ya! kita akan menjalani masa tua penuh penyiksaan dan hati yg tersakiti oleh manusia generasi anak-anak kita. mengerikan! Padahal kebanyakan dari kita berharap menjalani masa tua penuh ketenangan.

Belajarlah dari Yusuf tentang tanggung jawab dan komitmennya dalam mendidik Yesus. Yesus bukanlah anak kandungnya. tapi Yusuf telah menjadi bapak yang penuh kasih dan tanggung jawab dalam mendidiknya. Mari!

Comments

Popular Posts