Kartini Award Bidang Pendidikan Berbasis Keluarga


Ibu kita Kartini… putri sejati… 
putri Indonesia… harum namanya!

Itulah syair lagu “Ibu Kita Kartini”. Dulu Kartini berjuang demi agar perempuan bisa mengenyam pendidikan seperti pria. Namun, Kartini-kartini saat ini tidak hanya berjuang untuk kaumnya. Saya mengenal banyak perempuan yang berjuang untuk perempuan dan anak-anak. Mereka tanpa lelah mengupayakan suatu perbaikan pendidikan maupun sosio-ekonomi, bahkan tanpa gaji atau imbalan apapun semangat dan karya mereka nyata. Bahkan untuk sekedar penghargaan sosial pun tidak mereka dapat.

Sebagian besar dari mereka telah rela meninggalkan pekerjaan yang menghasilkan uang, dan ketika menjalankan tugasnya pun harus meninggalkan keluarga yang mereka kasihi. Padahal, jika dipikir, ngapain kok susah-susah begitu… kan lebih enak tinggal di rumah bersama anak dan suami, tidak ribet. Atau juga lebih asyik kalau kerja di kantor, bisa dapat duit untuk beli ini-itu, atau untuk jalan-jalan bersama keluarga. Tak perlulah memikirkan kemajuan orang lain! Ya, inilah kebanyakan pemikiran orang pada umumnya. Tapi, jika para Kartini ini tidak berjuang, siapa lagi yang akan memperjuangkan nasib orang-orang yang lemah? Mereka akan makin terjajah!

Terjajah? Lho, bukannya negara kita sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945? Penjajah dimana-mana dan di tiap waktu akan selalu ada. Mereka yang suka memeras orang lain, yang tak peduli dengan kesusahan orang lain, yang hanya memikirkan keuntungan pribadi.

Beberapa perempuan yang saya kenal, adalah perwujudan Kartini di masa sekarang. Semangat mereka demi perbaikan Indonesia sangat membara. Mereka korbankan waktu, tenaga, dan uang untuk mencapai apa yang mereka perjuangkan. Bahkan, tak jarang mereka korbankan sebagian waktu kebersamaan dengan keluarga, padahal, mereka adalah perempuan-perempuan yang sangat menyintai keluarganya. Dan, mereka lakukan itu, untuk berjuang memperbaiki kehidupan anak lain, anak-anak di seluruh negeri ini. Sungguh suatu pengorbanan yang nyata.

Saya pribadi pernah merasakan sendiri, suatu kondisi dimana saya harus pergi berjuang demi anak-anak di Indonesia, dengan meninggalkan anak saya yang tak ingin saya tinggalkan, walaupun saya hanya meninggalkannya untuk satu hari itu saja. Memang, bisa dimaklumi jika anak saya rindu dan tidak ingin saya tinggalkan pada waktu itu karena beberapa hari sebelumnya saya sudah meninggalkannya sejak pagi hingga sore, demi untuk berobat. Sungguh berat rasanya. Ingin saya batalkan, tapi saya tetap berangkat, dengan sebelumnya meminta ijin pada anak, bahwa ini akan jadi terakhir kalinya saya meninggalkan dia sebelum kami berangkat ke Sumatera. Dan dia pun melepaskan saya dengan rela.

Benar-benar berat rasanya. Berulangkali saya menelpon anak saya, merasa bersalah, namun juga terpaksa demi keberlanjutan perjuangan saya untuk kehidupan pendidikan anak-anak Indonesia. Itu pula yang dirasakan oleh beberapa perempuan yang saya kenal, yang meninggalkan anak-anak dengan berat hati demi sebuah perjuangan.

Melalui postingan ini, saya ingin memberikan penghargaan setinggi-tingginya pada para perempuan hebat ini. Kartini-kartini, mari kita terus berjuang untuk dunia pendidikan anak yang lebih baik di Indonesia, dan mari berjuang untuk kebahagiaan keluarga kita juga karena ini adalah yang utama. Semoga dunia pendidikan jadi lebih baik di masa depan, dan anak-anak kita menjadi pelopor perbaikan yang lebih lagi, karena mereka diasuh oleh Kartini-kartini yang penuh semangat!

Selamat Hari Kartini, Kawanku!
Kartini-kartini masa kini dengan karya di bidang pendidikan anak dalam keluarga: Patricia, Martha, Cecilia, Adelien, Dian, Yuli, Kristien, Zie, Cita, Erika Fanny semangat terus berjuang ya... karena perjuangan kita pasti menghasilkan kemerdekaan dalam belajar.

Comments

Popular Posts