Skip to main content

Featured

Menemukan Kembali Mood Menjahit Yang Pernah Hilang

Sudah hampir tiga bulan aku tidak menjahit apapun. Mesin jahit dan mesin obras tergeletak begitu saja penuh debu. Sedangkan meja mesin jahit pun penuh dengan berbagai benda yang tak lagi berguna. Selain itu, kain-kain stock pun berserakan di dalam kantong plastik dan di dalam kontainer besar yang sulit dibuka karena di atas kontainer itu ada kantong-kantong yang berisi baju-bajuku. Benar-benar berantakan! Akhir-akhir ini kondisi kamarku memang kacau, akibat dari tidak memiliki lemari sehingga kain-kain pun tidak terdisplay dengan baik. Ini membuatku sangat malas mencari-cari kain untuk dijahit karena sulit diakses. Rupanya aku tidak cocok menggunakan kontainer dan plastik-plastik untuk menyimpan kain-kain. Lalu kuputuskan untuk membeli dua lemari yang kupakai untuk tempat baju dan stock kain.  Aku membeli satu lemari bergambar jerapah (aku suka jerapah!) yang belum dirakit pada tanggal 1 Mei, lalu segera ku rakit keesokan harinya, setelah dirakit aku merasa lemari ini terlalu kecil, ti

Hidup Bersama Diabetes Di Daerah Pedalaman

Sewaktu kami memutuskan untuk pindah di area pedalaman, ada terbersit kekawatiran dalam hati saya tentang perawatan diabetes yang saya derita. Saya penderita diabetes type 1, ini berarti saya tergantung dengan insulin karena kerusakan pankreas yang saya alami sejak muda.

Tentu saja saya sangat mengkhawatirkan kondisi perawatan diabetes saya. Selama di Sidoarjo, diabetes saya berkisar 190-230 mg/dL. 190 itu gula darah puasa, dan normalnya ya sekitar 220. Tapi jika saya makan nasi lebih banyak setelah puasa, pengukuran gula darah saya bisa mencapai angka 290 mg/dL. Padahal itu sudah pakai insulin dengan dosis 20 unit per hari, dan obat Glimepiride 1 kali setelah makan pagi.


Saya sempat stress dengan kondisi ini, karena sebetulnya saya dan dokter memiliki target menghilangkan digit 2 dalam pengukuran diabetes. Digit 1 di depan pengukuran itu harus dipertahankan, apalagi saya ada target cabut gigi yang sudah rusak. Angka pengukuran harus maksimal 180 mg/dL! Imagine!! Hampir tidak mungkin ya... apalagi kalau saya di daerah pedalaman.

Dalam bayangan saya tuh... daerah pedalaman bakal tempat tinggal saya: tidak ada spesialis penyakit dalam, tidak ada apotek yang komplit menyediakan insulin dan Glimepiride. Dan BENAR!! Itulah kondisinya! Untuk mendapatkan insulin dan dokter spesialis saya harus menempuh jalan sungai 1 jam. Tapi kalau obat bisa nitip klinik perusahaan.

Setelah 1 bulan kami tinggal di pedalaman ini, ternyata gula darah saya normal! Gula darah puasa berkisar 130-150 mg/dL, gula darah acak tidak pernah mencapai 200 mg/dL. Bahkan pernah mencapai 69 mg/dL, tentu ini tidak baik, sehingga saya harus utak atik dosis insulin. Bagaimana bisa begitu? Saya yakin ini ada kaitannya dengan perubahan gaya hidup yang terpaksa harus saya lakukan di daerah ini.

Kondisi Insulin
OK, seperti yang saya ceritakan di awal, insulin saya selama di Sidoarjo adalah 20 unit per hari sekali suntik. Saya memakai merk Lantus, karena selama ini saya cocoknya dengan Lantus. Kisah kecocokan saya dengan Lantus dan ketidakcocokan dengan merk lain bisa dibaca di sini: Levemir VS Lantus, The Effects On My Diabetic.

Lalu sesampainya kami di pedalaman Sumatera ini, target kami adalah mengusahakan terpenuhinya Lantus. Kami ke kota terdekat, namun tak satu pun apotek yang menjual Lantus. Adanya Novo Mix. Dengan terpaksa kami membeli Novo Mix dan berharap insulin ini cocok untuk saya. Tapi saya tidak memakainya dulu karena stock Lantus masih ada.

Kira-kira Minggu kedua setelah sampai di sini, saya melakukan pengukuran gula darah, dan hasilnya sangat mengherankan: 109 mg/dL! Rendahkan... waktu itu saya belum memakai Novo Mix, masih dengan Lantus. Jadi, rendahnya gula darah ini pasti bukan karena perubahan merk insulin. Nah, mari kita menuju pada faktor yang lain.

Makanan
Di area pedalaman ini, makanan kami diolah oleh dapur perusahaan. Selama ini, makanan yang kami nikmati diolah dengan bahan-bahan segar, tidak memakai bahan-bahan yang telah diolah secara berlebihan seperti bakso, sosis, siomay, nugget, dll. Bahan-bahan makanan yang saya sebutkan tadi mengandung banyak sekali karbohidrat yang akan diolah tubuh menjadi glukosa. Belum lagi godaan jajan seperti batagor, risol, ote-ote, singkong goreng, dan lain-lain, semua itu kaya karbohidrat, dan hampir tiap hari saya konsumsi di Sidoarjo.

Beda dengan makanan yang ada di sini, selain bahannya segar, tidak diolah secara berlebihan, juga tidak ada penjual jajan di area mess! Hahahahaaa.... ini namanya diet yang dipaksakan oleh kondisi. Oiya, koki sini juga hebat loh, kalau masak sayur, sayurnya masih terasa "kriuk" dan warnanya masih bagus, tidak layu karena overheat. Itu berarti vitamin yang dikandung sayuran masih belum banyak yang rusak.

Ada lagi satu hal yang saya acungi jempol: kalau bikin cah sayuran, mereka menyertakan banyak bawang putih utuh, tidak dicincang. Tahu sendiri kan khasiat bawang putih untuk kesehatan... itu termasuk antibiotik alami. Sewaktu berangkat ke sini, saya membawa bekal vitamin untuk menjaga stamina keluarga. Tapi sampai sekarang vitamin itu hampir utuh, berkurang hanya 1 butir. Ya mau bagaimana lagi... selama di sini kami tidak merasakan badan sakit yang semacam sakit karena kekurangan imunitas (flu, batuk, pilek, radang tenggorokan, dll.). Di Sidoarjo, kami hampir tiap hari konsumsi itu tiap malam. Mungkin ini juga efek dari bawang putih yang kami konsumsi tiap hari.

Lingkungan
Jelas bedalah lingkungan pedalaman dengan kota Sidoarjo. Polusinya beda, kondisi alamnya beda, kesegaran udaranya beda. Ini juga pengaruh buat kesehatan. Tapi ada juga aspek lingkungan yang tidak menyehatkan di sini, yaitu kenyataan bahwa saya tidak perlu kerjakan pekerjaan rumah seperti dulu. Pekerjaan rumah yang saya lakukan hanyalah: menyapu dan mengepel 2 kamar tidur kami, dan mencuci gelas kopi. Sudah, itu saja! Yang lain dikerjakan oleh kru sini: mencuci, setrika, bersihkan kamar mandi, mengganti galon minum, bahkan membuang sampah. Itu pun sebenarnya saya tidak perlu nyapu dan ngepel tiap hari karena mereka akan melakukan. Lha tapi kalau saya tidak begitu, berarti saya tidak gerak sama sekali dong...

Untuk mengakali kondisi kurang gerak ini saya melakukan senam. Inilah senam yang saya lakukan, senam khusus untuk penderita diabetes type 1. Senam ini tampak santai, tapi kalau dilakukan sesuai petunjuk pasti bikin keringat dan menggos-menggos lho! Coba deh senam ini:



Tentang dokter spesialis, sampai lebih dari 1 bulan ini dokter spesialis saya adalah jurnal-jurnal ilmiah di berbagai website terpercaya. Saya belum ada niatan mengunjungi dokter di kota terdekat yang jaraknya 1 jam perjalanan, karena untuk mengunjungi dokter itu kami harus menginap di hotel, demi penyesuaian antara jadwal prakteknya dan jadwal boat yang membawa kami ke kota tersebut. Walau begitu, saya terus berusaha untuk memahami segala kondisi dan tanda-tanda yang terjadi dalam tubuh sebagai kemungkinan perubahan kondisi ke arah yang buruk.

Nah, itulah mungkin yang mendasari adanya perubahan dalam kadar gula darah saya. Sedangkan untuk insulin, sekarang saya menguranginya menjadi 16 unit, itu pun saya split 2 kali, 8 unit pagi hari dan 8 unit sore hari, karena sekarang berganti Novo Mix yang efeknya di jam-jam pertama menurunkan gula darah dengan sangat tajam hingga pernah mencapai 69 mg/dL. Sejak memakai takaran ini, saya merasa stabil, dan begitulah pengukuran gula darah saya stabil di angka sekitar 140-170 mg/dL... menyenangkan!

Comments

  1. syukurlah ya mbak. ternyata perubahan itu tak selamanya berdampak buruk. ini malah dampaknya positif..

    ReplyDelete
  2. Mbak di tempat baru dapetin insulinnya bisa pake BPJS gak ?
    Semoga gak ada kendala ya kedepannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus ke kota dulu, yang jaraknya 1 jam perjalanan dengan biaya Rp. 100.000 PP untuk 1 orang :D

      Delete

Post a Comment

Popular Posts