Belajar Di Atas Kapal Ferry

8 Mei 2015 adalah saat bersejarah bagi kami, ketika kami sekeluarga pindah tempat tinggal dengan menyeberang pulau, lautan, sungai. Kami berangkat hari Jumat, dengan pesawat ke kota Batam. Perjalanan kami tempuh selama 2 jam. Di Batam kami menginap di rumah tante. Esoknya, pukul 09:30 kami menempuh perjalanan ke Kuala Enok, dengan ferry dari pelabuhan Sekupang-Batam. Di Batam ada banyak pelabuhan, namun untuk ke arah Kepulauan Riau yang melayani hanya di Sekupang, pelabuhan lainnya melayani rute Singapura dan Malaysia. Ok deh... tentang kisah perjalanan ini akan saya tulis terpisah ya, supaya pembaca bisa mengetahui suka duka mengarungi jalur ini.

Perjalanan dengan ferry kami tempuh sekitar 8 jam! Normalnya sih 7 jam, tapi karena ada mesin yang eror di tengah jalan, maka kami harus menunggu ferry pengganti selama 1 jam.

Kapal ferry yang kami gunakan

8 jam perjalanan itu bukan waktu yang singkat untuk dijalani di dalam kapal sempit ini. Beda dengan ferry penyeberangan Surabaya - Madura atau Gilimanuk - Bali yang berukuran besar. Dengan ferry yang seperti itu kita masih bisa jalan-jalan di dalamnya selama 8 jam tanpa bosan. Tapi memang, kondisi jalur Batam - Kuala Enok tak akan bisa ditempuh dengan ferry sebesar itu karena jalur ini melewati sungai-sungai yang kadang sempit. Bahkan beberapa sungai kondisinya sempit, sehingga ferry harus mengurangi kecepatan jika berpapasan dengan kapal lain supaya ombak yang dihasilkan tidak terlalu besar. Ombak yang besar akan mengombang-ambingkan kapal lain dan itu tidak sopan, kawan!

OK, apa yang bisa kami lakukan di ferry ini selama 8 jam untuk mengurangi kebosanan? Kebosanan adalah suatu penyakit yang bisa menimbulkan rasa bete, bahkan pertengkaran jika dosisnya sudah tinggi. Dalam perjalanan ini tentu saja anak kami ikut, dan yang paling rawan terserang bosan adalah anak kami karena pemikiran kanak-kanak dia yang masih tak bisa mengendalikan pemikirannya sendiri ke arah yang menyenangkan. Dia masih butuh orang lain untuk menanamkan kebahagiaan pada mind setnya. Oleh karena itu bosan harus dihapus dari mind set. Yang pertama saya lakukan adalah memasang mind set happy (=bahagia). Dengan demikian, segala yang kami lakukan didasari dengan rasa happy. Berikutnya adalah menularkan mind set ini pada anak. Jika kita bahagia, anak pun demikian, karena dalam bahagia itu kita menampakkan semangat dan ekspresi tubuh yang bahagia. Jika yang kita tampakkan adalah ekspresi bosan dan bete, ya yang lain pun akan ketularan. Itu tidak baik untuk perjalanan berdurasi 8 jam tanpa henti ini.

Yang berikutnya, kami melakukan diskusi-diskusi kecil yang ringan, memancing otak untuk berpikir, tapi dalam situasi yang menyenangkan. Kami berdiskusi tentang banyak hal yang kami jumpai. Tentang gado-gado yang kami beli dari penjaja ferry yang aneh rasanya, tentang nasi goreng yang rasanya asal pedas, tentang air sungai yang berbeda warna, kapal-kapal yang kami jumpai, habitat yang ada di sungai, dan lain-lain.

Tak lupa, kami membuat joke... ini wajib hukumnya! Apapun yang dilakukan, joke itu kudu ada. Penceria, pemberi semangat, penyegar... itulah fungsi joke! Hehehe... 

Oh ada lagi... kami belajar bergerak di antara 2 benda yang bergerak! Dari ferry ke ferry, dari ferry ke ponton, dari ponton ke ferry, dan dari ponton ke pompong! Aih, ini tidak mudah untuk orang kota seperti saya! Takut nyemplung! Selain itu, kami lewatnya juga di garis tipis pinggiran ferry, itu lebarnya hanya selebar satu telapak kaki! Syukurlah bisa terlewati. Hal-hal yang seperti ini jika dilakukan dengan riang tentu malah jadi proses belajar yang menyenangkan. Jadi, rumusnya kesenangan belajar itu yang memang satu: dilakukan dengan bahagia!

Dengan kondisi perjalanan yang panjang dan lama ini, kami tidak lupa untuk menyempatkan diri tidur sejenak barang 2-3 jam. Juga, perut gak boleh kosong supaya tubuh tetap fit. Jam 17:30 kami tiba di Kuala Enok, dengan kondisi matahari yang masih bersinar layaknya pukul 16:00 kalau di Jawa. Luar biasa! Pengalaman belajar yang tak terlupakan.

Comments

Popular Posts