Kekosongan Jiwa Dan Kemalasan, Ada Apa Ini?

Aku terhenyak pagi ini, ketika melintas sebuah post di Newsfeed FBku, isinya sangat aneh, menimbulkan tanda tanya besar, dan sekaligus menyedihkan. Di postingan itu ada beberapa foto hasil screenshot dari sebuah group FB anak muda, salah satunya seperti foto di bawah ini:


Yang diwakili oleh screenshot tersebut adalah sekelompok anak yang melakukan pemujaan pada sosok "kak bowo" (selebritis apps Tik Tok) hingga menuhankannya. Fenomena penuhanan ini gak cuma terjadi pada "kak bowo", ada pula yang terjadi pada selebritis, politikus, atau siapapun yang dianggap hebat walaupun dia bukan siapa-siapa.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar bagi saya: mengapa sampai bisa terjadi penuhanan terhadap suatu sosok manusia yang tak memiliki satu pun kualitas Tuhan?

Pada kejadian yang lain, pernahkah anda melakukan kontak dengan CS suatu perusahaan, katakanlah itu perusahaan internet provider, atau perusahaan tv cable, untuk melaporkan gangguan yang terjadi pada internet di rumah? Saya sering, dan sering pula dibikin naik darah oleh mereka! Pasalnya, mereka kebanyakan sok pintar, memberikan jawaban standard, dan malas melihat pada catatan keluhan konsumen.

Seringkali kejadiannya begini, waktu ada gangguan, saya menelepon perusahaan tersebut (dan yang merespon tentu saja CS-nya). Tapi ternyata kerusakan tak bisa ditangani dalam satu hari. Esoknya saya menelepon lagi. CS menanyakan lagi tentang gangguan yang saya alami, OK, saya jelaskan lagi. Dari sini saja sebetulnya, jika CS tidak malas melihat pada catatan data keluhan pelanggan, tentu saya tak perlu menjelaskan lagi dengan mengulang kata-kata yang kemarin. Yang bikin saya emosi, kalau ini diulangi sampai berkali-kali dan respon mereka pun sama saja: "Baik bu, nanti kami periksa." Oh la la... ini sangat menjengkelkan! Ingin rasanya ku datangi mereka lalu serang dengan tenaga dalam ala persilatan kuno!

Dan kejadian ini sering terjadi. Saya sampai berpikir: perusahaan dengan tarif semahal ini hanya mampu memberi training cuma segini pada CS-nya? Betapa pelitnya...!

Bukan itu saja! Saya pernah menghubungi CS supplier produk masak elektronik untuk menanyakan apakah bisa membeli pengaduk bread maker, karena punya saya hilang. Jawaban CS itu diluar dugaan saya: "Bisa difotokan barangnya?" Olala dek... itu barang sudah hilang, apa yang mau difoto?

Jadi dua kasus CS ini, ada satu hal yang saya pelajari: kemalasan! Ya, mereka sangat malas untuk membaca data dan berpikir tentangnya.

Sedangkan pada kasus pertama, yang saya tarik adalah pemanfaatkan kekosongan jiwa orang lain untuk ditarik sebagai massa pengikutnya. Kekosongan jiwa! Manusia dengan jiwa yang kosong adalah manusia yang tak tahu harus kemana, melakukan apa, dan memikirkan apa. Sehingga jiwa itu mudah terseret pada sosok yang bisa ditumpangi, sosok yang dianggap besar, mudah diraih, dan dijadikan penyangga dirinya. Bukan "kak bowo" yang mengalami kekosongan jiwa. "Kak bowo" jelas memiliki passion yang bisa mengarahkan dia untuk mengatur langkah demi menyenangkan rakyatnya. Tapi rakyat "kak bowo" itu yang mengalami kekosongan jiwa. Mereka bersedia mengorbankan apapun, menyerahkan apapun walaupun itu dosa dimata Tuhan. Bahkan kesalahan yang dilakukan "kak bowo" pun sudah tak dianggap sebagai suatu kesalahan oleh mereka!

Menyedihkan? Ya!
Apa sebenarnya pangkal dari ini semua? Ada akibat, tentu ada sebab. Ada perilaku, tentu ada dasarnya. Ada kemalasan dan kekosongan jiwa, pasti ada penyebabnya.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang dipengaruhi oleh lingkungannya. Baik buruknya seseorang itu adalah hasil interaksi dengan lingkungannya. Ada tiga lingkungan yang sangat berpengaruh: media, orangtua, dan sebaya.

Pengaruh Media
Di sini termasuk segala paparan media: tv, cetak, dan media sosial. Kita tak bisa langsung membuat undang-undang yang melarang anak memakai medsos atau menonton tv. Dari televisi ada hal positif yang bisa diambil, begitu pun dari media cetak dan media sosial ada hal positif yang bisa diadopsi.

Namun, tak pelak, segala informasi yang menyesatkan pun ada. Pemberian pujian dan ketertarikan pada sosok yang salah, itu adalah salah satunya. Yang lain adalah... membanjirnya pengaruh-pengaruh media ini sehingga tak berhenti menghantam pikiran anak-anak! Anak-anak tak lagi memiliki waktu untuk memaknai kehidupannya sendiri, mereka sibuk memberi perhatian pada hal-hal lain di luar diri yang sebenarnya tidak penting bahkan sebenarnya berpotensi menyesatkan.

Media sosial dan televisi juga menghindarkan anak dari kebiasaan membaca, sedangkan buku pun sudah jarang digandrungi anak-anak seperti dulu. Setiap hari anak hanya disodori bacaan yang sangat singkat berupa caption foto yang sangat singkat, atau chatting pun memakai singkatan yang gak baku!

Dari kenyataan ini, ada baiknya jika tiap hari disediakan waktu jeda buat anak, supaya mereka memiliki waktu untuk menikmati kesendirian, mengisinya dengan berpikir tentang kehidupannya. Dengan begini, akan ada keseimbangan antara hantaman pengaruh luar dengan kemampuannya mengendalikan diri dan memaknai kehidupannya.

Juga ada baiknya jika tiap hari anak dibiasakan untuk membaca buku dengan banyak tulisan dan belajar memahami bacaan itu. Membaca, bukan sekedar melihat deretan huruf. Dari sini anak akan belajar teliti menangkap informasi dan mampu mengolahnya dengan cepat.

Jika anak mampu mengendalikan dirinya, dia akan mampu menolak pengaruh buruk, tidak mudah mengagumi sosok yang tidak tepat, dan mudah pula untuk mengendalikan diri untuk bekerja lebih keras.

Pengaruh Pengasuhan
Ini adalah pengaruh yang didapat anak sejak dia dilahirkan. Pengasuhan adalah juga memberikan dasar bagi baik buruknya kehidupan anak. Disinilah peran penting orangtua. Ada banyak ahli parenting yang menyarankan supaya orangtua sering berkomunikasi dengan anak sehingga anak bisa tetap di jalan yang benar. Tapi ternyata masih ada masalah dengan komunikasi ini... kesalahan komunikasi justru menyebabkan hubungan anak-orangtua merenggang!

Nada bicara, materi pembicaraan, rangkaian kata yang dipilih, semua itu akan menentukan keberhasilan komunikasi yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas hubungan dalam keluarga. Pilihlah nada bicara dan rangkaian kata yang menenangkan, menyenangkan, namun tulus dan memancing pembicaraan yang mendalam. Ingatlah bahwa saat-saat berakrab dengan anak itu adalah sangat penting, dan itu akan menjadi landasan cara anak berpikir tentang dirinya dan orang lain.

Dan... jangan lagi berpikir bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas! Keduanya sama penting dan harus sejalan.

Pengaruh Sebaya
Penting! Sangat penting! Teman sebaya yang buruk akan membuat anak ikut buruk pula jika anak belum punya kepribadian yang kuat dan matang. Apalagi jika anak memiliki jiwa yang kosong. Narkoba, free sex, menganut sekte sesat, itu semua adalah akibat dari kekosongan jiwa yang diisi oleh teman sebaya yang buruk.

Berteman tanpa memandang SARA adalah bagus, tapi tetap harus dipandang bagaimana tingkah laku teman sebayanya, jika ada tanda-tanda perilaku yang negatif, sebaiknya anak dijauhkan darinya. Di sini peran orangtua juga penting walaupun anak telah menjadi remaja.


Hhmmm... mengerikan? Ya!

Comments

Popular Posts