Menyusul Ketertinggalan Sosialisasi Yang Kompetitif & Kolaboratif

Di OMK Stella Maris Pluit 

Beberapa orang berpendapat bahwa sosialisasi yang kompetitif itu tidak diperlukan oleh anak-anak. Lebih dibutuhkan kemampuan berkolaborasi dan bekerja sama. Tapi beberapa yang lain berpendapat bahwa kompetisi diperlukan oleh anak-anak. Menurut saya, keduanya benar. Kemampuan bekerja sama dibutuhkan untuk hidup bersama orang lain. Sedangkan kemampuan berkompetisi dibutuhkan jika memang harus berhadapan dengan situasi kompetitif di lingkungan kerja.

Sudah empat tahun kami hidup di sebuah pelosok, tempat yang tenteram dan damai. Hampir tak ada perselisihan yang berarti di sana. Semua saling menghormati layaknya warga desa kecil. Dengan kondisi ini, kompetisi hampir tak ada. Dua tahun pertama aku merasa ini sangat nyaman. Ku jalani dengan tenang dan bahagia. Namun lama kelamaan, aku merasa ada yang kurang, terutama tentang pendidikan anakku, dia tidak memiliki kesempatan untuk berkompetisi, juga untuk bekerja sama, karena di sana banyak orang saling melayani, bagaimana bisa bekerja sama apalagi berkompetisi?

Mungkin bagi orang yang ingin hidup tenteram, situasi ini sangat ideal untuk hidup. Tapi bagi saya yang memiliki pemikiran bahwa masa depan anak saya masih panjang dan saya tak tahu dimana dia akan hidup kelak, situasi ini sangat mengganggu. Bagaimana pun, anak harus dibekali dengan berbagai kecakapan hidup, termasuk tentang kerja sama dan kompetisi. Keduanya harus seimbang.

Akhirnya awal tahun ini saya memutuskan untuk keluar dari pelosok tersebut menuju kota. Setelah beberapa bulan mempersiapkan diri, bulan Agustus lalu kami pindah ke kota besar. Saat ini kami sedang memasuki tahap awal memperkenalkan anak pada dunia sosialisasi yang sebenarnya, dimana ada kerja sama dan kompetisi dalam dua organisasi.


Di sasana wing chun Rajawali Sakti

Anak saya sudah menjelang remaja, lebih sulit bagi kami untuk mendorongnya keluar dari zona nyaman tanpa perlu beradaptasi dengan sosialisasi yang baru, karena dia sudah memiliki beribu alasan untuk tidak melakukan sehingga susah untuk mempersuasinya. Tapi saya tetap berusaha, dan akhirnya saya berhasil membuatnya hadir dalam pertemuan dua organisasi. Bagi saya, ini sudah awal yang baik.

Apa saja kedua organisasi itu? Yaitu sasana berlatih bela diri wing chun, untuk mengasah kesehatan fisik, kompetisi, ketahanan mental, dan sekaligus kerja sama. Yang kedua adalah OMK (Orang Muda Katolik) di Gereja Stella Maris Pluit untuk mengasah kemampuan kerja sama dan bersenang-senang bersama teman-teman seiman.

Saya berharap bisa secepatnya menuliskan kabar baik untuk para pembaca mengenai perkembangan sosialisasi anak saya, dari sisi kerja sama maupun kompetisi. Dari aktivitas bersosialisasi, karakter baik bisa diajarkan dan jadi pengalaman yang baik untuk masa depan anak.

Comments

Popular Posts