Skip to main content

Featured

Menemukan Kembali Mood Menjahit Yang Pernah Hilang

Sudah hampir tiga bulan aku tidak menjahit apapun. Mesin jahit dan mesin obras tergeletak begitu saja penuh debu. Sedangkan meja mesin jahit pun penuh dengan berbagai benda yang tak lagi berguna. Selain itu, kain-kain stock pun berserakan di dalam kantong plastik dan di dalam kontainer besar yang sulit dibuka karena di atas kontainer itu ada kantong-kantong yang berisi baju-bajuku. Benar-benar berantakan! Akhir-akhir ini kondisi kamarku memang kacau, akibat dari tidak memiliki lemari sehingga kain-kain pun tidak terdisplay dengan baik. Ini membuatku sangat malas mencari-cari kain untuk dijahit karena sulit diakses. Rupanya aku tidak cocok menggunakan kontainer dan plastik-plastik untuk menyimpan kain-kain. Lalu kuputuskan untuk membeli dua lemari yang kupakai untuk tempat baju dan stock kain.  Aku membeli satu lemari bergambar jerapah (aku suka jerapah!) yang belum dirakit pada tanggal 1 Mei, lalu segera ku rakit keesokan harinya, setelah dirakit aku merasa lemari ini terlalu kecil, ti

Antri Memasuki Peradaban Baru


Pada sebuah diskusi tentang Covid-19 yang mengalami peningkatan, seorang teman mengatakan pada saya: "Allah sedang siapkan kita masuk ke peradaban baru." Ya benar, saya meyakini itu juga. Akan tetapi dalam hati saya merasa sedih, karena proses dalam antri masuk dalam peradaban baru ini selalu ada yang namanya seleksi alam, barangsiapa dianggap tidak siap dengan peradaban baru maka mereka akan punah, disini saya merasa sedih.

Peradaban baru apa yang sedang Allah persiapkan untuk kita?

Sebuah peradaban yang berorientasi digital, online, peradaban dengan perbedaan cara berinteraksi antar manusia, sebuah peradaban yang membuat manusia mengakui bahwa ada makhluk yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang namun sangat mempengaruhi hidupnya, sebuah peradaban dengan manusia-manusia yang lebih berhati-hati dan waspada terhadap penyakit. Bisa atau tidak bisa, mau atau tidak mau, manusia harus beradaptasi jika ingin survive.

Kita tak bisa lagi mengatakan: 

"Aku gak bisa cara begini"

"Aku harus bertemu teman-teman"

"Aku tidak bisa mendampingi anakku belajar online lagi"

"Aku harus memeluknya langsung walau dia sedang sakit"

"Foto bersama teman itu harus kelihatan wajahnya"

"Lebaran harus bertemu keluarga secara langsung dan makan-makan bersama satu meja ramai-ramai"

Dengan sangat terpaksa, semua itu harus dihilangkan dan tak dirindukan lagi. Kecuali... ya kecuali, semua pihak bisa memastikan bahwa tak ada virus Covid-19 menempel pada dirinya dengan cara medis, bukan cuma dengan perkiraan subyektif.

Kita bisa memilih dengan siapa kita akan melewati gerbang menuju peradaban baru ini, dan mulai mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih adaptif untuk mempersiapkan diri dalam peradaban baru.

Comments

Popular Posts